BPOM Jalin Kerja Sama dengan Otoritas Obat India
Gambar atau konten salah?
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Taruna Ikrar, mengumumkan bahwa Indonesia sedang menjalin kerja sama dengan otoritas pengawas obat India, Central Drugs Standard Organisation (CDSCO). Kesepakatan ini berfokus pada sistem pengawasan produk medis antara kedua negara.
Sebenarnya, hubungan kerja sama ini sudah berlangsung sejak tahun 2018 hingga 2023. Sekarang, kelanjutan dari kesepakatan tersebut tertuang dalam lima ruang lingkup utama yang menjadi prioritas kolaborasi. Ruang lingkup pertama adalah meningkatkan pemahaman tentang regulasi agar kerangka aturan di kedua negara bisa selaras, termasuk farmakope nasional dan sistem regulasi masing-masing.
Poin kedua menekankan pentingnya bertukar informasi dan praktik terbaik yang berkaitan dengan standar internasional. Contohnya adalah cara berlaboratorium yang baik (good laboratory practices/GLP), cara uji klinik yang baik (good clinical practices/GCP), dan cara pembuatan obat yang baik (good manufacturing practices/GMP). Hal ini diungkapkan Taruna pada Selasa, 07 Juli 2026.
Sinergi ini juga mencakup penguatan sistem keamanan obat. Caranya adalah melalui pertukaran informasi tentang keselamatan, farmakovigilans, dan penanganan kejadian yang tidak diinginkan (adverse events). Ruang lingkup keempat dan kelima melibatkan partisipasi aktif dalam forum ilmiah seperti konferensi, simposium, dan seminar. Semua itu diperkuat dengan peningkatan kapasitas koordinasi kedua lembaga di berbagai forum internasional.
"Kesepakatan bilateral ini dijadwalkan berlaku selama 5 tahun ke depan, serta dilengkapi dengan klausul perpanjangan otomatis untuk jangka waktu 5 tahun berikutnya," kata Taruna. Melalui kerja sama ini, pengawasan obat dan makanan di Indonesia diharapkan bisa semakin kuat. Langkah ini juga penting untuk memastikan bahwa bahan baku farmasi, baik yang diimpor maupun diproduksi di dalam negeri, sudah memenuhi standar keamanan tertinggi bagi masyarakat.
Kerja sama dengan CDSCO ini menjadi salah satu agenda dari kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Jakarta pada Selasa, 07 Juli 2026. Presiden Prabowo langsung menyambut kunjungan tersebut.
Kolaborasi ini menunjukkan upaya Indonesia untuk memperkuat sistem pengawasan obatnya dengan belajar dari mitra internasional. Fokus pada standar keamanan dan pertukaran informasi diharapkan dapat melindungi masyarakat dari produk farmasi yang tidak memenuhi syarat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
