Campuran Pertalite dan Turbo Ternyata Tak Setara Pertamax

Endah K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Campuran Pertalite dan Turbo Ternyata Tak Setara Pertamax

Gambar atau konten salah?

Kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang kini menembus angka Rp 16.000-an per liter membuat banyak pemilik kendaraan mencari cara untuk tetap bisa menggunakan bahan bakar dengan kualitas serupa, namun dengan biaya yang lebih rendah. Salah satu metode yang muncul di masyarakat adalah mencampur Pertalite dengan Pertamax Turbo menggunakan perbandingan 3:1. Banyak yang percaya bahwa campuran ini bisa menghasilkan bahan bakar dengan nilai oktan atau RON setara 92.

Anggapan itu ternyata keliru. Pertalite memiliki kandungan RON 90, sementara Pertamax Turbo memiliki RON 98. Perbedaan angka oktan yang cukup jauh ini membuat proses pencampuran tidak sesederhana yang dibayangkan. Penjelasan resmi dari akun pertamaxseries.id menegaskan bahwa asumsi mencampur 75 persen Pertalite dan 25 persen Pertamax Turbo untuk mendapatkan BBM RON 92 yang stabil adalah sebuah kekeliruan.

"Hasil akhir di dalam ruang bakar sangat bergantung pada tekanan dan suhu pembakaran aktual. Dampak langsungnya, konsentrasi Ignition Boost Formula pada RON 98 akan mengalami penurunan drastis hingga kehilangan fungsinya," begitu penjelasan yang dikutip dari sumber tersebut.

Jika seseorang rutin melakukan pencampuran ini, ada tiga risiko utama yang mengintai kendaraannya. Risiko pertama adalah mesin lebih berisiko mengalami knocking. Mesin dengan kompresi tinggi membutuhkan kualitas BBM yang stabil. Campuran yang tidak konsisten dapat memicu knocking dan mempercepat keausan komponen mesin. Knocking sendiri adalah kondisi di mana terjadi ledakan tidak sempurna di dalam ruang bakar, yang bisa merusak piston dan dinding silinder dalam jangka panjang.

Risiko kedua berkaitan dengan ECU atau Electronic Control Unit. Perubahan kualitas BBM yang tidak menentu membuat ECU terus menyesuaikan waktu pembakaran. Hal ini memicu penurunan performa pada mesin. Tak cuma itu, konsumsi bahan bakar juga menjadi lebih boros dari biasanya. Sensor yang ada pada kendaraan juga harus bekerja lebih berat karena ketidaksesuaian antara bahan bakar yang digunakan dengan kebutuhan mesin. ECU adalah otak dari sistem injeksi bahan bakar modern, dan kerjanya sangat bergantung pada konsistensi kualitas BBM.

Risiko ketiga adalah injektor yang lebih cepat kotor. Kualitas pembakaran yang tidak optimal justru mempercepat penumpukan kerak pada injektor. Dalam jangka panjang, performa mesin bisa turun drastis. Alhasil, biaya perawatan berkala juga ikut meroket. Membersihkan injektor yang sudah kotor bukanlah pekerjaan murah, apalagi jika kerak sudah menumpuk parah dan menyebabkan kerusakan permanen.

Penting untuk menggunakan satu jenis BBM murni yang sesuai dengan spesifikasi pabrikan. Tujuannya agar performa kendaraan tetap optimal dan mesin bisa panjang umur. Jenis BBM yang dianjurkan bisa dilihat pada buku panduan manual setiap kendaraan. Umumnya, buku panduan manual memang menganjurkan penggunaan satu jenis bahan bakar. Salah satu buku panduan manual mobil menuliskan anjuran berupa 'hanya bahan bakar bensin tanpa timbal angka oktan 92 atau lebih tinggi'.

"Mengabaikan kebutuhan riil mesin demi menekan biaya jangka pendek justru berisiko mendatangkan biaya perbaikan yang jauh lebih besar di kemudian hari," demikian penjelasan yang menutup peringatan tersebut.

Intinya, mencampur dua jenis BBM dengan nilai oktan berbeda bukanlah solusi cerdas. Yang terjadi justru sebaliknya: risiko kerusakan mesin meningkat, konsumsi BBM membengkak, dan biaya perawatan jangka panjang melonjak. Lebih baik menggunakan satu jenis BBM yang sesuai rekomendasi pabrikan daripada mengambil risiko yang justru berujung pada pengeluaran lebih besar.

campuran BBMPertalitePertamax Turborisiko mesinknockingECUinjektor

Komentar

Memuat komentar...