Capital Inflow Rp 126 Triliun, Pasar Saham Masih Keluar

Wulan M. · 2 min baca · 1 jam lalu · 16 dibaca
Bisik.id
Capital Inflow Rp 126 Triliun, Pasar Saham Masih Keluar

Gambar atau konten salah?

Selama periode Januari hingga Oktober 2026, Kementerian Keuangan mencatat adanya aliran dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, atau yang biasa disebut capital inflow, mencapai angka Rp 126 triliun. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa masuknya dana tersebut sebagian besar dipicu oleh daya tarik dua instrumen investasi, yaitu Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 3 November 2026, Suahasil menyampaikan laporan kepada Presiden mengenai kondisi ini. "Untuk inflow, tadi kami laporkan kepada Bapak Presiden bahwa terjadi inflow sampai saat ini masih inflow sekitar Rp 126 triliun sepanjang tahun dari Januari sampai dengan akhir Oktober kemarin. Dan ini adalah inflow yang baik," ujarnya.

Meskipun angka tersebut terbilang positif, Suahasil juga mengakui bahwa dinamika arus modal asing di pasar keuangan dalam negeri masih belum stabil. Pasar SBN dan SRBI memang terus menarik dana masuk. Namun, situasi berbeda terjadi di pasar saham. Di sana, investor asing justru masih melakukan aksi jual bersih, atau yang dikenal dengan istilah capital outflow.

"Tapi kalau di pasar saham memang masih terjadi capital outflow dengan berbagai macam perkembangan sejak awal tahun. Kita berharap bahwa pasar saham kita nanti akan lebih baik, dan kemudian nanti mulai juga memberikan capital inflow," jelas Suahasil.

Pemerintah, menurut Suahasil, terus berupaya membenahi iklim pasar modal. Tujuannya jelas: agar instrumen saham bisa menyusul kinerja SBN dan SRBI dalam menarik minat investor global. Namun, fokus utama pemerintah saat ini bukan hanya pada pasar keuangan jangka pendek. Yang lebih diutamakan adalah mendorong masuknya investasi langsung, atau foreign direct investment (FDI), ke sektor riil.

"Yang lebih penting adalah sebenarnya foreign direct investment, jadi investasi di proyek-proyek yang sifatnya langsung, investasi langsung di Indonesia," tegas Suahasil.

Di sisi lain, ada perkembangan lain yang perlu dicermati. Imbal hasil atau yield SBN mulai menunjukkan kenaikan. Hal ini dipicu oleh tekanan dari sentimen global. Meski begitu, kenaikan yield ini justru menandakan bahwa pasar SBN dan SRBI masih cukup diminati oleh investor asing di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

"SBN itu masih cukup menarik, SRBI juga masih cukup menarik, sehingga bisa menarik modal masuk ke dalam negeri. Tapi kami melihat kalau di pasar SBN suku bunga yield-nya itu juga mulai meningkat karena efek dari luar negeri," tutur Suahasil.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing, terutama melalui instrumen utang pemerintah dan surat berharga Bank Indonesia. Namun, tantangan tetap ada di pasar saham yang belum pulih sepenuhnya. Pemerintah pun terus berupaya menyeimbangkan antara menarik investasi portofolio jangka pendek dan investasi langsung jangka panjang di sektor riil.

capital inflowSBNSRBIpasar sahamforeign direct investmentinvestasi asingpasar keuangan Indonesia

Komentar

Memuat komentar...