China Tutup Udara 40 Hari 340 Mil di Shanghai
Gambar atau konten salah?
27 Maret 2026 hingga 6 Mei 2026, China menutup sebagian wilayah udara selama 40 hari. Penutupan tersebut diumumkan lewat Notice to Airmen dan mencakup area seluas 340 mil di lima zona berbeda. Zona‑zona itu meliputi perairan di utara dan selatan Shanghai, membentang dari Laut Kuning dekat Korea Selatan hingga Laut China Timur di sekitar Jepang. Luasnya melebihi ukuran Taiwan, menambah sorotan internasional.
Meskipun penerbangan komersial dikatakan tidak terdampak langsung, setiap pesawat tetap diwajibkan berkoordinasi bila melewati area tersebut. The Wall Street Journal menilai durasi penutupan ini “tidak biasa” dan lebih memengaruhi pola operasi militer daripada aktivitas penerbangan sipil.
Hingga 10 April 2026, pemerintah China belum memberikan penjelasan resmi. Situasi ini menimbulkan spekulasi, terlebih setelah aktivitas penerbangan militer di sekitar Taiwan sempat dihentikan secara mendadak.
Ray Powell, direktur proyek SeaLight di Stanford University, menilai kebijakan ini tidak lazim. Ia berkata, “What makes this stand out is the combination of altitude (SFC-UNL) with a 40‑day duration that is extraordinary and without any announcement of training. This indicates not just a separate drill, but ongoing operational readiness and China seems not to feel the need to explain it.” Powell menambahkan bahwa bila zona tersebut berkaitan dengan latihan militer, hal itu dapat menjadi perubahan penting dalam strategi Beijing. Ia menegaskan, “If the zone is proven to be related to training, then this becomes a significant shift in how China uses airspace control as a military signal.”
Christopher Sharman dari China Maritime Studies Institute di US Naval War College menilai kawasan tersebut memiliki nilai strategis tinggi. Ia mengatakan, “The airspace reserved could be an opportunity to train combat maneuvers needed in that scenario.” Sharman menyoroti luasnya wilayah sebagai area latihan militer potensial.
Sementara itu, pejabat keamanan senior Taiwan menilai langkah ini berkaitan dengan dinamika global. Menurutnya, China memanfaatkan perhatian Amerika Serikat yang tengah terfokus pada konflik di Timur Tengah. Ia menilai penetapan zona udara juga sebagai sinyal kepada Jepang, sekaligus upaya menekan sekutu Amerika Serikat dan mengurangi pengaruh Washington di kawasan Indo‑Pasifik.
Secara keseluruhan, penutupan wilayah udara ini menandai langkah strategis China yang menonjolkan kontrol wilayah udara sebagai alat sinyal militer. Ketidaktahuan pemerintah China tentang alasan di balik penutupan menambah ketegangan di kawasan, sementara spekulasi mengenai latihan militer dan dampak terhadap hubungan regional tetap berlanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin