Danantara Jual Obligasi 5+10 Tahun, Pesanan Rp 82,6 Triliun
Gambar atau konten salah?
Danantara Investment Management, bagian dari BPI Danantara, baru saja mengumumkan penjualan obligasi dolar AS yang mendapat sambutan positif di pasar keuangan global. Pada penawaran perdana yang berlangsung pada 11 Juni 2024, unit ini berhasil mengumpulkan pesanan lebih dari US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,94 triliun (menggunakan kurs Rp 17.961 per dolar).
Penjualan ini dianggap sebagai ujian penting bagi Danantara untuk menilai minat investor asing terhadap aset-aset Indonesia. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran tentang penurunan nilai rupiah, kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto yang memakan banyak anggaran, dan peran Danantara yang semakin meluas dalam perekonomian.
Menurut lembar persyaratan (term sheet) yang dilihat pada 12 Juni 2024, Danantara berhasil menjual obligasi 5‑tahun dan 10‑tahun masing-masing senilai US$ 750 juta atau Rp 13,47 triliun. Nilai permintaan ini jauh melampaui target awal, yaitu sekitar US$ 500 juta per obligasi.
Minat tinggi dari investor memungkinkan perusahaan meningkatkan ukuran penerbitan sekaligus menurunkan tingkat imbal hasil. Saat ini, obligasi 5‑tahun dihargai dengan imbal hasil 5,35 % dan obligasi 10‑tahun diberi imbal hasil 5,95 %.
Hingga 11 Juni 2024 malam, penawaran ini mencatat pesanan lebih dari US$ 4,6 miliar atau setara Rp 82,62 triliun, berdasarkan pembaruan buku pesanan yang dilihat oleh Reuters.
“Permintaan tersebut memungkinkan perusahaan untuk menurunkan imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin dari panduan harga awalnya. Satu basis poin adalah seperseratus dari satu poin persentase (0,01 %)”, tulis Reuters dalam laporannya.
Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan oleh Danantara Investment Management untuk kebutuhan korporasi umum, termasuk investasi dan pembiayaan kembali (refinancing) utang yang sudah ada.
Obligasi tersebut diperkirakan akan diterbitkan pada 18 Juni 2024 di bawah program obligasi jangka menengah (medium‑term note) global senilai US$ 5 miliar, papar Reuters lagi.
Sejumlah bank bertindak sebagai joint bookrunner dan joint lead manager dalam transaksi ini, antara lain Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.
Penjualan ini menunjukkan bahwa pasar internasional masih tertarik pada surat utang Indonesia, meski ada ketidakpastian makroekonomi. Dengan permintaan yang kuat, Danantara dapat menurunkan biaya pinjaman dan memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Phapros Tetapkan Dividen 15% atas Laba Bersih 2025
USD Menguat 0,23% vs Rupiah, Rp 17.900 per dolar Pagi
BI Naikkan Suku Bunga Jadi Pendorong Modal Asing Kembali
Harga Emas Antam 24K Naik Rp2,709,000 per Gram 12 Juni 2026
IHSG Buka Zona Hijau, Naik 1,73% Menjadi 5.987,74 Di Bursa
IHSG Tutup di Zona Merah, Turun 0,28% karena Penjualan BCA
Berita Terbaru