Danantara Tunda Laporan Keuangan, Fokus Pembersihan BUMN
Gambar atau konten salah?
COO Danantara Dony Oskaria mengungkap alasan kenapa perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangan sejak didirikan pada Februari 2025. Ia menegaskan bahwa laporan keuangan Danantara tidak sama dengan laporan biasa. Danantara merupakan konsolidasi seluruh laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaannya.
Dony menjelaskan bahwa saat ini Danantara sedang melakukan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola dan transparansi laporan keuangan semua perusahaan pelat merah. Langkah ini dianggap krusial karena proses pembersihan buku‑buku keuangan BUMN sedang berlangsung, sekaligus menyelesaikan proses impairment (penurunan nilai aset) yang bermasalah.
Ia menambahkan bahwa laporan keuangan Danantara akan difinalisasi dan dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026. “Laporan keuangan Danantara itu adalah konsolidasi daripada laporan seluruh BUMN. Nah kami sedang melakukan pembersihan seluruh laporan daripada BUMN dan ada beberapa BUMN yang belum selesai. Nanti akhir Juni 2026 akan selesai seluruh BUMN kita bersihkan,” ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31 Mei 2026).
Dony juga menjelaskan bahwa lemahnya tata kelola yang ada tercermin nyata pada lonjakan nilai impairment aset BUMN yang menyentuh angka Rp 100 triliun. “Termasuk saya menyampaikan dalam beberapa kesempatan bahwa kita melakukan impairment hampir 100 triliun terhadap buku‑buku BUMN,” ujarnya.
Ia menutup dengan menegaskan komitmennya: “Ini bentuk daripada transparansi dan komitmen kita semua bahwa BUMN ke depan harus dikelola secara transparan,” sambungnya.
Perusahaan masih menunggu proses pembersihan selesai sebelum merilis laporan keuangan. Proses ini mencerminkan upaya Danantara untuk meningkatkan tata kelola dan transparansi, sekaligus menanggapi kritik atas nilai impairment yang tinggi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI Bisa IPO di Bursanya Sendiri, Aturan Baru Disusun
BEI Tunda Perpanjangan Jam Dagang Saham 30 Menit
BEI Resmi Buka Short Selling, Baru 5 Saham LQ45
Pemerintah Simpan Rp200 Triliun di Bank BUMN hingga 2027
FrieslandCampina Akuisisi Ultrajaya, Kuasai Saham Pengendali
HOKI Akui Empat Produk Beras Fortifikasi Tak Sesuai Klaim