Diabetes Anak Meningkat 70 Kali Lipat, Kemenkes Peringatkan

Nita W. · 2 min baca · 51 menit lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Diabetes Anak Meningkat 70 Kali Lipat, Kemenkes Peringatkan

Gambar atau konten salah?

Diabetes yang dulu dianggap masalah orang tua kini semakin sering ditemukan pada anak dan remaja. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyoroti perubahan gaya hidup modern sebagai penyebab utama lonjakan kasus ini. Indonesia kini berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes, dengan lebih dari 20 juta orang yang hidup dengan penyakit ini dan prevalensi mencapai 11,3 persen.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah peningkatan kasus diabetes pada anak, yang dilaporkan naik 70 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, jumlah penderita diabetes pada kelompok usia produktif di bawah 40 tahun juga terus menunjukkan tren peningkatan.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa peningkatan kasus diabetes tidak terlepas dari pola hidup masyarakat yang semakin kurang bergerak atau sedentari. “Yang pasti satu, harus seimbang. Yang penting itu keseimbangan antara asupan dan aktivitas,” kata Nadia dalam sesi bincang pada forum pemimpin ‘Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut’ pada Jumat, 5 Juni 2026.

Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan teknologi dan layanan digital secara tidak langsung membuat aktivitas fisik masyarakat menurun drastis dibandingkan generasi sebelumnya. “Kita naik diabetesnya karena kita tahu generasi muda sekarang sedentari dan apa-apa lebih mudah. Mungkin zaman saya kuliah kalau mau makan harus jalan kaki mencari warung. Kalau sekarang, warungnya datang dalam lima sampai 10 menit,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat kalori yang masuk ke tubuh tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan. Akibatnya, risiko kelebihan berat badan hingga obesitas meningkat, yang kemudian menjadi faktor penting munculnya diabetes tipe 2.

Selain kurang bergerak, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula juga menjadi perhatian. Nadia mengingatkan masyarakat perlu lebih bijak mengatur pola makan, terutama jika aktivitas fisik sehari-hari tergolong rendah. “Kalau kita tahu aktivitas fisik kita kurang, asupan kita harus dibatasi. Dengan adanya informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman, sebenarnya kita bisa mengatur diri untuk membatasi asupan,” jelasnya.

Foto: Andhika Prasetia

Foto Nadia mengakui mengubah kebiasaan bukan perkara mudah. Namun, langkah sederhana seperti menyeimbangkan konsumsi makanan tinggi gula dengan pola makan yang lebih sehat pada hari berikutnya dapat menjadi awal yang baik. “Kalau hari ini minum yang manis-manis, besoknya dihindari atau dikurangi. Intinya balancing,” katanya.

Para ahli sebelumnya telah mengingatkan bahwa lonjakan diabetes di usia muda dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari konsumsi makanan cepat saji, minuman berpemanis, kurang aktivitas fisik, hingga stres. Obesitas yang ditandai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi juga memiliki kaitan kuat dengan peningkatan risiko diabetes.

Tanpa intervensi yang efektif melalui perubahan gaya hidup dan deteksi dini, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 28-40 juta kasus pada 2045.

Karena itu, Kemenkes menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini, mulai dari memperhatikan asupan gula, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Kasus diabetes kini menembus semua lapisan usia, menandakan perlunya perhatian lebih pada pola hidup modern dan kebiasaan makan. Kemenkes mengajak masyarakat untuk menyeimbangkan asupan dan aktivitas sebagai langkah awal mengurangi risiko penyakit ini.

Komentar

Memuat komentar...