Diaspora Banyuwangi Kumpul, Perkuat Solidaritas & Ekonomi

Guntur P. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Diaspora Banyuwangi Kumpul, Perkuat Solidaritas & Ekonomi

Gambar atau konten salah?

Di Pendopo Shaba Swagata Blambangan, para perantau Banyuwangi berkumpul kembali dalam acara tahunan yang menampilkan suasana hangat dan penuh keakraban. Musik kendang kempul mengiringi pertemuan, sementara aneka kuliner lokal menjadi ajang mempererat solidaritas. Hadir dari Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga Jerman dan Amerika Serikat, para diaspora menampilkan semangat tandang bareng—aksioma bahasa Osing yang menggambarkan kebersamaan, gotong royong, dan kerja sama.

“Semangat tandang bareng ini adalah modal yang terus kita jaga. Tak bisa kita berjalan sendiri-sendiri. Tapi, harus kompak dan saling membantu,” terang Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka kegiatan tersebut. Ia mengajak seluruh diaspora untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Berkat kerjasama kita semua, saat ini Banyuwangi terus menunjukkan tren pertumbuhan positif di tengah tantangan yang semakin kompleks,” ujarnya. Menurutnya, beberapa capaian utama Banyuwangi antara lain tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil.

“Pertumbuhan Ekonomi kita pada tahun 2025 mencapai 5,65 persen. Lebih tinggi dari rata-rata Nasional (5,11 persen) dan Provinsi Jawa Timur (5,33 persen). Pendapatan Perkapita juga naik menjadi Rp 67,08 juta pada 2025. Tertinggi di kawasan Sekarkijang (Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang).”

Kemiskinan juga semakin menurun. Saat ini tinggal 6,13% (turun 0,41 persen dari tahun sebelumnya). Lebih rendah dari kemiskinan tingkat Nasional dan Provinsi Jawa Timur. Gini Rasio juga tersisa 0,29 persen dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) hanya 3,94 persen.

“Capaian ini, bukan semata kerja kami. Tapi, atas doa, dukungan dan tandang bareng semua pihak. Termasuk juga para diaspora yang terus mengharumkan Banyuwangi,” ungkap Ipuk.

Spirit tandang bareng tidak hanya mengalir dari luar ke dalam, melainkan juga sebaliknya. Nur Hidayat dari Ikawangi Sumatera Utara menceritakan kontribusi masyarakat Banyuwangi yang membantu warga Sumatera Utara pasca bencana banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Atas bantuan dari warga Banyuwangi, kami bisa membuka puluhan sumur bor untuk akses air bersih bagi warga yang tinggal di Sibolga dan Aceh,” ungkap Nur Hidayat.

Wulan, seorang diaspora asal Kalibaru yang tinggal di Osaka, Jepang, juga menunjukkan semangat yang sama. Ia bekerja untuk Kedutaan Besar Indonesia di negeri Sakura dan siap memfasilitasi warga Banyuwangi yang ingin bekerja di Jepang.

“Kami siap membantu, jika ada warga Banyuwangi yang ingin bekerja di Jepang. Melalui program G to G (kerjasama antar pemerintah), sedang dibutuhkan banyak nakes (tenaga kesehatan) di Jepang,” ajak perempuan yang telah tinggal 30 tahun lamanya di Jepang.

Arief Yahya, penasehat Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Pusat, menekankan bahwa seluruh diaspora dapat berkontribusi untuk membangun kampung halamannya dengan cara terbaik masing-masing. Untuk itu, ia menekankan pentingnya mengetahui core utama prospek ekonomi Banyuwangi guna menjadi acuan dan wawasan para diaspora.

“Ada tiga core utama ekonomi Banyuwangi. Yang pertama, pariwisata. Semuanya bisa turut mempromosikan wisata Banyuwangi di tempat perantauan masing-masing. Jadilah duta terbaik Banyuwangi,” ungkap Arief Yahya.

Selain itu, potensi ekonomi Banyuwangi lainnya adalah blue economy dan hub penghubung antara Indonesia bagian barat dengan timur. “Seiring dengan koneksitas tol Prosiwangi yang tidak dalam waktu lama akan tersambung sampai Banyuwangi, ini akan jadi hub ekonomi baru. Banyuwangi jadi gerbang masuk barang ke Indonesia Timur,” pungkasnya.

Acara ini menegaskan bahwa peran diaspora tidak hanya sebatas donasi, melainkan juga sebagai agen perubahan yang memanfaatkan jaringan global untuk memajukan daerah. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, penurunan kemiskinan, dan peluang kerja di luar negeri, Banyuwangi menunjukkan bahwa solidaritas dan kerja sama lintas batas dapat membawa manfaat nyata bagi komunitasnya.

Diaspora BanyuwangiTanding BarengPertumbuhan EkonomiKemiskinanBlue EconomyHub EkonomiG to GKoneksi Tol Prosiwangi

Komentar

Memuat komentar...