Dua Pengembang Indonesia Berkeliling Apple Park di WWDC 2026

Vera T. · 3 min baca · 7 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Dua Pengembang Indonesia Berkeliling Apple Park di WWDC 2026

Gambar atau konten salah?

WWDC 2026 menjadi panggung bagi dua pengembang muda Indonesia, Francesco Emmanuel Setiawan dan Ghazali Ahlam Jazali, untuk menorehkan kisah mereka di dunia teknologi global. Keduanya, yang berprestasi di Swift Student Challenge, akhirnya dapat menginjakkan kaki di Apple Park, Cupertino, dan merasakan keajaiban yang selama ini hanya mereka dengar lewat berita.

Francesco, mahasiswa Ilmu Komputer di Binus University, tak henti-henti mengungkap betapa memukau suasana di Apple Park. “Yang paling memorable sih pas hari pertama ya, pas pertama kali masuk Apple Park. Benar-benar kagum banget, keren banget sama kantornya. Banyak pohon, keren,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sambutan hangat dari karyawan Apple membuatnya merasa sangat welcome dan acara tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kreatifnya.

Ghazali, lulusan Ilmu Komputer Universitas Sanata Dharma, merasakan atmosfer yang sama. Ia mengatakan, “Kita begitu sampai di depan ini aja, masuk itu udah langsung pada teriak-teriak, WWDC, dan udah langsung bersorak-sorak semua. Energinya itu sangat tinggi dan itu mengubah semua experience-nya,” ia menuturkan. Kesan pertama yang kuat ini menjadi dasar bagi motivasinya untuk terus berkarya di platform Apple.

Di tengah gemerlapnya acara, kesempatan langka muncul ketika kedua pengembang bertemu langsung dengan Tim Cook, CEO Apple, dan John Ternus, Presiden Teknologi Perangkat Keras. Francesco mengingat percakapan singkat dengan Tim Cook, “Dia cerita pas terakhir dia ke Apple Academy Indonesia, dia senang banget lihat the next generation of learners,” ia berbagi. Pesan yang disampaikan Tim Cook, baik dalam keynote maupun obrolan pribadi, menekankan pentingnya inovasi yang memberi dampak positif.

Ghazali juga terkejut ketika mengetahui bahwa WWDC merupakan momen favorit para petinggi Apple sepanjang tahun. Ia berkata, “Yang aku agak nggak expect itu adalah mereka bilang bahwa WWDC adalah waktu favorit mereka dalam setahun, termasuk dalam menyambut para pemenang Swift Student Challenge,” ia menambahkan. Dari situ ia belajar bahwa Apple sangat peduli mendidik developer dan mendukung pengembang indie.

Selain pertemuan dengan Tim Cook dan John Ternus, Ghazali juga berkesempatan berbincang dengan Susan Prescott, Vice President Worldwide Developer Relations. Ia mengungkapkan, “Susan Prescott itu essentially semua yang membuat journey developer-ku jadi possible sampai ke sini bahkan. Dan yang keren dari dia, dia sangat berenergi. It was a joy to talk to her and to gain insights from her as well,” ia menuturkan. Interaksi dengan Susan membuka pandangan baru tentang bagaimana Apple mendukung developer di seluruh dunia.

WWDC 2026 juga menjadi ajang bagi kedua pengembang untuk memperluas jaringan internasional. Francesco mengaku dapat bertemu langsung dengan engineer dari perusahaan besar. “Bisa ketemu engineers dari Headspace, dari Meta juga ada. Jadi interesting banget bisa ngobrol-ngobrol sama mereka, dapat insight-insight yang mungkin dari tempat lain kita enggak bisa dapatkan,” ia menyatakan. Sementara Ghazali terinspirasi saat bertemu alumni Apple Developer Academy dari berbagai negara. Ia menekankan, “Ngeliat orang-orang lain ini, banyak juga yang dari Apple Developer Academy, dari berbagai negara, misalnya Korea, Brazil, sampai Italia. Ketemu mereka semua itu menurutku sangat inspiring,” ia menambahkan. Pertemuan ini membuka wawasan tentang budaya, metode pembelajaran, dan pendekatan pengembangan aplikasi di seluruh dunia.

Tak hanya pengalaman sosial, kedua pengembang juga antusias dengan teknologi baru yang diumumkan. Francesco menyoroti pembaruan Core AI yang kini mendukung model server. Ia menjelaskan, “Jadi kita udah enggak usah call API dari external parties lagi, terus mau run on-device model tuh jauh lebih gampang dan jauh lebih bagus,” ia menyatakan. Sementara Ghazali menyoroti hadirnya visual debugger untuk proyek Artificial Intelligence dan Machine Learning. Ia mengatakan, “Salah satu hambatan terbesar dalam mengerjakan proyek AI/ML itu kan kayak ngeliat model AI yang black box. Dengan visual debugger ini, itu bakal sangat membantu pekerjaan di sana,” ia menuturkan.

Pengalaman di Apple Park tidak hanya menambah wawasan teknis, tetapi juga memperkuat tekad kedua pengembang untuk terus berinovasi. Mereka menyadari bahwa dukungan dari perusahaan besar dan komunitas global dapat membuka peluang yang lebih luas. Dengan semangat yang sama, Francesco dan Ghazali berencana untuk melanjutkan pengembangan aplikasi yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi pengguna.

Melalui perjalanan ini, kedua pengembang menunjukkan bahwa kesempatan besar dapat muncul bagi siapa saja yang berani bermimpi dan berusaha. Kunjungan mereka ke WWDC 2026 menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja keras dapat membuka pintu di dunia teknologi yang kompetitif. Dari pengalaman bertemu tokoh penting hingga memanfaatkan teknologi terbaru, mereka menegaskan pentingnya kolaborasi, pembelajaran berkelanjutan, dan semangat inovasi dalam membangun masa depan digital.

WWDC 2026Apple ParkTim CookSusan PrescottCore AIvisual debuggerdeveloper IndonesiaSwift Student Challenge

Komentar

Memuat komentar...