Eceng Gondok Menutupi Sungai Citarum, PLN Bersih & Kelola
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, sungai Citarum kini tampak seperti pulau hijau yang tertutup jutaan eceng gondok. Fenomena ini terdeteksi lewat citra satelit yang memantau perubahan permukaan sungai pada tahun 2022, 2023, dan 2026.
Di gambar 2022, badan sungai masih dominan air terbuka. Eceng gondok hanya muncul di beberapa titik, belum menutupi sebagian besar sungai. Alur sungai dan batas perairan masih jelas terlihat.
Perubahan drastis terjadi pada 2023. Sebagian besar area genangan yang sebelumnya terbuka kini berubah menjadi daratan berlumpur. Volume air berkurang, sehingga tutupan eceng gondok menurun. Sedimentasi dan pendangkalan terlihat dominan di bagian tengah genangan.
Namun pada 2026, ketika volume air kembali meningkat, permukaan sungai didominasi warna hijau gelap. Hal ini menandakan pertumbuhan eceng gondok yang luas. Hamparan vegetasi air menutupi sebagian besar badan sungai, terutama di area arus lambat. Luasan tutupan eceng gondok pada 2026 dua kali lipat dibandingkan 2022, dan menjadi lebih rapat.
Secara visual, 2026 menunjukkan pergeseran dari perairan terbuka menjadi kawasan yang didominasi gulma air. Di beberapa bagian, batas antara sungai dan daratan hampir tidak dapat dibedakan karena kepadatan tutupan.
Menurut biota.ac.id, fenomena ini biasa terjadi pada perairan yang mengalami eutrofikasi, yakni pengayaan unsur hara berlebih seperti nitrogen dan fosfor. Nutrisi tinggi memicu ledakan populasi eceng gondok. Penelitian menunjukkan eceng gondok dapat berkembang sangat cepat di perairan kaya nutrien dan bahan organik.
Pengamatan lapangan di Cililin juga menunjukkan sungai berubah menjadi “hamparan hijau” akibat jutaan rumpun eceng gondok. Pertumbuhan gulma air masif ini sering dikaitkan dengan penurunan kualitas air dan tingginya kandungan nutrien.
“Ya seperti ini kondisinya, permukaan sungainya ditutup eceng gondok. Semakin kesini semakin banyak eceng gondoknya,” kata Awang Widiati, warga setempat, pada 5 Juni 2026.
Awang, yang memiliki restoran di Jembatan Ciminyak, biasanya membeli ikan dari nelayan setempat. Namun, beberapa pekan terakhir ia terpaksa membeli ikan dari daerah lain karena tidak ada pasokan ikan dari nelayan di Citarum. “Ya kan biar sama-sama membantu, ikan yang dari tambak di sini kita beli. Ada juga yang dari nelayang, cuma kan sekarang buat ngejaring ikannya saja enggak bisa. Petambak juga kurang produksi ikannya, memang mengganggu (eceng gondok),” ujarnya.
Selain menghambat perairan, pertumbuhan eceng gondok menimbulkan nyamuk. “Saya saja yang rumahnya agak jauh dari sungai masih terganggu sama nyamuk, apalagi yang di pinggir sungai. Sehari saya bisa habiskan 4 buah obat nyamuk bakar, kalau enggak gitu ya enggak bisa tidur karena terys digigit nyamuk,” kata Awang.
Di Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, alat berat diangkut ke permukaan sungai. Hanya hijau yang terlihat sepanjang mata memandang. Tidak ada celah bagi perahu untuk menerjang rapatnya pertumbuhan gulma air, menandakan kualitas air yang buruk.
PT PLN Indonesia Power mengambil langkah pembersihan. “Jadi memang eceng gondok ini banyak dikeluhkan, karena mengundang kemunculan nyamuk-nyamuk. Sehingga kita akhir pekan lalu melakukan pembersihan eceng gondok,” kata Senior Manager PLN IP UBP Saguling, Doni Bakar, pada 9 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa pembersihan harus dilakukan secara rutin di titik-titik prioritas. “Pembersihan eceng gondok harus dilakukan secara rutin. Sejauh ini memang masih dibersihkan menggunakan alat berat serta pengangkutan manual oleh personel lapangan,” tambahnya.
Selain pembersihan, PLN mendorong pemanfaatan eceng gondok sebagai produk bernilai ekonomi. “Di sisi lain, kami juga selalu berusaha menjaga kualitas air perairan Waduk Saguling, karena keberadaan eceng gondok menjadi indikator penurunan kualitas air,” jelas Doni.
Perubahan ini menunjukkan betapa cepatnya ekosistem sungai dapat berubah ketika nutrisi berlebih dan kondisi lingkungan tidak terkelola. Dampak sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat menjadi nyata, memaksa pihak berwenang dan masyarakat lokal untuk bertindak. Pembersihan rutin dan pemanfaatan eceng gondok dapat menjadi solusi yang mengurangi dampak negatif sekaligus menciptakan nilai tambah bagi daerah sekitar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Rencanakan Peningkatan Dana Pendidikan 2026
Tahun Baru Islam: Perbedaan Kalender Lunar vs Solar
Mahasiswa Bandung Unjuk Rasa di DPRD Jawa Barat, 11 Juni
Ir. Muaz HD Meninggal, DPRD Bogor Berduka Besar, Kebijakan
Kota Bogor Raih WTP ke-10, Konsistensi Keuangan Daerah
Anjani 15, Gambar Icarus & K-Pop Jadi Sorotan Pameran Seni
Berita Terbaru
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
Semifinal AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia 0-0
XLSmart: Jembatan Integrasi Tujuh Pilar Digital Indonesia
Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung
Pertamax Naik Rp 16.250: Menteri Jelaskan Penyesuaian Pasar
