Ekspor Minyak Saudi Melonjak 80 Persen di Tengah Konflik
Gambar atau konten salah?
Ekspor minyak mentah Arab Saudi melonjak drastis pada September 2026. Angkanya mencapai 6 juta barel per hari. Ini terjadi di tengah meningkatnya konflik dengan kelompok Houthi.
Data dari Kpler menunjukkan lonjakan ini. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang Iran pecah sekitar tujuh bulan lalu. Rata-rata ekspor minyak Saudi pada 2025 juga berada di level yang sama, 6 juta barel per hari.
Dibandingkan Agustus 2026, ekspor melonjak hampir 80 persen. Bulan sebelumnya, ekspor minyak mentah Saudi hanya sekitar 3,4 juta barel per hari.
Lonjakan ini terjadi meskipun Saudi menutup pipa minyak East-West pada bulan yang sama. Pipa itu rusak akibat serangan drone dari Irak. Infrastruktur ini penting selama perang Iran. Pipa East-West memungkinkan Saudi menghindari Selat Hormuz. Minyak dari bagian timur Saudi bisa dialirkan ke terminal Yanbu di Laut Merah tanpa melewati selat tersebut.
Penutupan pipa sempat membuat harga minyak mentah Brent melonjak mendekati US$ 110 per barel. Tapi harga kemudian turun. Pelaku pasar mulai yakin gangguan itu tidak separah perkiraan awal.
Saudi kini mengalihkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Ini setelah militer Amerika Serikat membuka jalur pelayaran di sepanjang pesisir Oman. Negara-negara Teluk lainnya sudah menggunakan jalur itu selama beberapa bulan. Meskipun serangan terhadap kapal tanker masih terjadi.
"Peningkatan dari Teluk Timur Tengah merupakan konsekuensi dari gangguan pipa, tetapi kemungkinan juga menandakan kepercayaan yang lebih besar untuk menggunakan Selat Hormuz seiring meningkatnya lalu lintas," kata Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler.
Data Kpler menunjukkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mencapai rata-rata tujuh hari sebesar 13,2 juta barel per hari pada Rabu. Sebelum perang Iran mengganggu pelayaran, volumenya berada di kisaran 17 juta barel per hari.
Sementara itu, pipa East-West dilaporkan mulai kembali beroperasi dengan volume rendah pada awal pekan ini. Alirannya secara bertahap meningkat. Namun, pemerintah Arab Saudi belum mengonfirmasi bahwa jalur pipa tersebut telah kembali beroperasi.
Lonjakan ekspor minyak Saudi terjadi di tengah situasi geopolitik yang rumit. Konflik dengan Houthi dan perang Iran menciptakan gangguan pasokan. Namun, data menunjukkan Saudi mampu meningkatkan ekspor. Ini menunjukkan adaptasi terhadap kondisi yang berubah. Kepercayaan terhadap keamanan Selat Hormuz tampaknya meningkat. Meskipun risiko serangan masih ada, jalur laut mulai digunakan kembali. Pipa East-West yang sempat rusak juga mulai berfungsi lagi. Semua ini terjadi tanpa konfirmasi resmi dari pemerintah Saudi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PHK di Indonesia Capai 53.490 Orang Hingga Agustus 2026
Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara
Pelatihan Brevet C: Naik Level ke Pajak Internasional
Harga Emas Antam Naik Rp23.000 Jadi Rp2.613.000 per Gram
Prabowo Pimpin Rapat Ekonomi Terbatas di Jakarta
Pelatihan Transfer Pricing Mulai 14 Oktober
