El Nino 2024: 80% Kemungkinan, Dampak Global Diprediksi
Gambar atau konten salah?
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan bahwa kemungkinan terjadinya fenomena El Nino mencapai 80 % pada periode 01 Juni 2024 hingga 31 Agustus 2024. Peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur menjadi tanda utama. Pada bulan 01 November 2024, peluang munculnya El Nino diprediksi naik menjadi 90 %.
Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, menegaskan bahwa “Sainsnya sudah jelas: El Nino akan segera tiba di depan mata dalam beberapa bulan mendatang dengan tingkat kepastian 90%. Dunia harus menyikapinya sebagai peringatan iklim yang mendesak.” Ia menambahkan bahwa perubahan pola angin, tekanan, dan curah hujan akan memengaruhi banyak wilayah.
El Nino biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. Menurut WMO, fenomena ini dapat meningkatkan curah hujan di selatan Amerika Selatan, Amerika Serikat, sebagian wilayah Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Di sisi lain, kekeringan dapat melanda Indonesia, Australia, Amerika Tengah, dan sebagian Asia Selatan. Badai di Pasifik tengah dan timur juga menjadi risiko.
WMO memprediksi bahwa El Nino tahun ini akan berada pada tingkat sedang, namun kemungkinan besar akan menjadi kuat. “Dampaknya akan menghantam lebih keras, menyebar lebih jauh, dan melintasi batas‑batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan,” kata Guterres.
Penelitian dari Imperial College London dan jaringan ilmuwan di World Weather Attribution menunjukkan bahwa tren ini dapat memicu kebakaran hutan yang sangat parah. Sebagai langkah antisipasi, Uni Eropa berencana mengerahkan petugas pemadam kebakaran dan pesawat ke daerah risiko tinggi seperti Yunani, Italia, Prancis, Spanyol, dan Portugal.
El Nino terakhir, yang berlangsung pada 2023‑2024, berkontribusi menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Celeste Saulo, Sekretaris Jenderal WMO, menyoroti risiko lain terkait panas ekstrem, termasuk penyebaran penyakit dan penurunan pasokan makanan serta air. “Masyarakat yang sudah kesulitan akan semakin terdesak melampaui batas kemampuan,” tambahnya.
Di tengah inflasi yang dipicu konflik AS‑Israel‑Iran, harga pangan diprediksi akan melonjak lebih tinggi karena El Nino. Hein Schumacher, CEO Barry Callebaut—salah satu perusahaan pengolah kakao terbesar di dunia—menyatakan bahwa panen di Ekuador dan Afrika Barat, yang menyumbang 60 % produksi global, dapat turun. “Ini adalah sesuatu yang sedang kami amati dengan sangat hati‑hati. El Nino dapat memberikan dampak yang mengarah pada kenaikan harga beberapa ribu per ton,” cetusnya.
Guterres menegaskan bahwa tren iklim ini menjadi pengingat pentingnya beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. “Kondisi El Nino akan menyiramkan bensin ke dalam kobaran api dunia yang terus memanas,” tegasnya.
El Nino memaksa negara‑negara di seluruh dunia untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan iklim yang cepat. Perubahan pola cuaca, curah hujan, dan suhu dapat memengaruhi pertanian, kesehatan, dan infrastruktur. Dengan tingkat kepastian yang tinggi, tindakan preventif menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif bagi masyarakat dan ekonomi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
