El Nino 'Godzilla' 2026: Indonesia Hadapi Kemarau Panjang
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Ancaman serius mengintai Indonesia pada tahun 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi munculnya El Nino kuat yang masuk kategori ekstrem, bahkan dijuluki “Godzilla”.
El Nino dengan intensitas tinggi dapat merusak pola cuaca global. Bagi Indonesia, ini berarti musim kemarau yang diprediksi akan jauh lebih panjang dan menyengat.
Secara teknis, El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Saat kekuatannya memuncak, pembentukan awan hujan justru “kabur” menjauh dari wilayah nusantara.
Prediksi tahun 2026 menunjukkan kondisi akan lebih gawat karena El Nino kemungkinan besar akan berduet dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. IOD memicu pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, sehingga pembentukan awan hujan terhambat. Akibatnya, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan merosot tajam.
Model iklim global BRIN memprediksi fenomena “Godzilla” mulai menggeliat dari 1 April 2026 hingga 31 Oktober 2026. Periode ini sangat krusial karena bertepatan langsung dengan puncak musim kemarau di tanah air, sehingga dampaknya akan lebih menyakitkan.
Dampaknya tidak merata. Wilayah selatan, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, diprediksi menjadi yang paling awal merasakan kekeringan hebat. Sementara wilayah timur, seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, justru berpeluang tetap diguyur hujan tinggi. Perbedaan kontras ini menuntut strategi mitigasi yang spesifik dan tidak dapat disamaratakan antar‑daerah.
Risiko nyata sudah di depan mata. Dampak paling mengerikan adalah ancaman kekeringan ekstrem di lumbung pangan seperti Jalur Pantura Jawa, hingga hantu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengintai Sumatra serta Kalimantan.
Prediksi ini menyoroti bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang berat pada tahun 2026, dengan distribusi curah hujan yang tidak merata dan risiko kekeringan serta kebakaran yang meningkat. Persiapan dan mitigasi yang tepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
Berita Terbaru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
