Emas Turun di Tengah Konflik Timur Tengah, Dolar Jadi Pilihan
Gambar atau konten salah?
Harga emas dulu naik terus, sementara instrumen lain turun. Pada awalnya, pasar menaruh harapan emas bisa mencapai Rp 3,5 juta saat Lebaran. Namun, konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran justru melemahkan harga emas, menurunkannya tajam sepekan menjelang Idulfitri.
Menurut Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas, harga emas memang cenderung turun karena konflik di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa situasi di Iran, yang masih kekosongan pemimpin, membuat investor beralih dari emas ke dolar AS.
“Sehingga membuat para investor kembali meninggalkan logam mulia. Mereka untuk saat ini beralih ke dolar sebagai safe haven. Karena Iran sedang kekosongan pemimpin. Walaupun sudah ada pemimpin pun, tetapi pemimpin tersebut tidak mau berkomentar karena ada ketakutan daerahnya itu akan kelihatan dan akan diserang kembali,”
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah (brent crude oil) yang menyentuh US$ 112 per barel juga memengaruhi logam mulia. Ibrahim menjelaskan bahwa harga minyak tinggi dapat meningkatkan inflasi, yang pada gilirannya memaksa bank sentral menaikkan suku bunga.
“Sehingga Bank Sentral global dalam pertemuan minggu kemarin masih mempertahankan suku bunga. Bahkan, ada kemungkinan besar di bulan depan ini akan menaikkan suku bunga. Artinya, kenaikan suku bunga akibat inflasi yang tinggi rupanya berdampak negatif terhadap harga logam mulia,”
Bank sentral menaikkan suku bunga biasanya membuat investor memilih aset berbunga, seperti obligasi, deposito, dan surat utang pemerintah, daripada emas. Namun, Ibrahim melihat ini sebagai peluang bagi investor.
“Mungkin mendekati akhir Maret ini logam mulia akan terus mengalami kenaikan. Jadi, kalau orang bilang kenapa logam mulia sepertinya ditinggalkan? Oh, tidak ditinggalkan. Ini ada peralihan dari logam mulia ke dolar AS. Nanti ada waktunya akan berpindah kembali ke logam mulia,”
Ia menekankan bahwa emas masih menjadi instrumen terbaik untuk melindungi nilai uang. Menurut prediksinya, harga emas bisa menembus Rp 3,5 juta hingga akhir tahun. Saat terjadi koreksi, ia menganggap ini saat yang tepat bagi masyarakat untuk membeli emas.
Kenaikan harga minyak mentah tidak hanya mempengaruhi inflasi, tetapi juga menambah ketidakpastian di pasar. Investor cenderung menunda pembelian emas ketika suku bunga naik, karena mereka bisa mendapatkan imbal hasil lebih tinggi di instrumen berbunga.
Pada pertemuan terakhir, bank sentral global memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, menandakan bahwa mereka menunggu data inflasi lebih jelas sebelum membuat keputusan selanjutnya.
Perubahan aliran investasi dari emas ke dolar AS mencerminkan ketidakpastian politik di wilayah Timur Tengah. Meskipun logam mulia tetap dianggap safe haven, investor saat ini lebih memilih mata uang dolar yang lebih stabil.
Dengan memperhatikan dinamika ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi tentang kapan membeli emas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Jadwal Salat Denpasar 8 Juni 2026: Waktu Shalat Hari Ini
Ganti Filter, Cuci Linen, Pakai Keset: Cara Kurangi Debu Rumah
Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Drones di Kawasan Udara
Mazda GB FC & Bandung Legend Berangkat ke Jepang 2026
PPPK Sekolah 2026 Buka 5.127 Formasi, 185 untuk SMA/SMK
Campus League Tegaskan Kerjasama Olahraga dengan UPH 2026
Pasangan Indonesia Kalah di Final Indonesia Open 2026
Chen Dijatuhi 3 Bulan Penjara atas Gangguan Malam Kaohsiung
Jadwal Sholat Senin 8 Juni 2026: 38 Kota Jawa Timur
