Empat Spesies Kumbang Baru Ditemukan di UB Forest

Sigit W. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Empat Spesies Kumbang Baru Ditemukan di UB Forest

Gambar atau konten salah?

Peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) berhasil menemukan dan mendeskripsikan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu. Temuan ini merupakan hasil kolaborasi dengan University of Florida, Michigan State University, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lokasi penelitian berada di kawasan UB Forest, Jawa Timur.

Penemuan ini dianggap penting dalam bidang biodiversitas hutan tropis. Hasilnya sudah dipublikasikan pada 21 Juni 2026 di jurnal Journal of the Coleopterists Bulletin. Judul artikelnya adalah Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species.

Salah satu spesies baru diberi nama Amasa brawijaya. Nama ini diberikan sebagai penghormatan kepada Universitas Brawijaya. Penamaan itu juga sekaligus merujuk pada warisan sejarah Kerajaan Majapahit.

Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB. Ia bekerja sama dengan Yogo Setiawan, yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

Pengambilan data dilakukan di UB Forest sejak Oktober 2024. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan Bark and Ambrosia Beetles Academy yang diselenggarakan oleh University of Florida. Universitas Brawijaya bertindak sebagai tuan rumah. Acara tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan pakar taksonomi untuk mempelajari keanekaragaman kumbang hutan tropis di Indonesia.

Tim peneliti berhasil mengidentifikasi empat spesies baru:

  • Crossotarsus gunungapi (Hulcr, Tarno, and Levia)
  • Cosmoderes arjuno (Johnson)
  • Cosmoderes opacus (Johnson)
  • Amasa brawijaya (Smith)

Spesies Amasa brawijaya punya arti khusus. Namanya tidak hanya menghormati universitas, tetapi juga mengandung nilai sejarah. Prof. Hagus menjelaskan bahwa nama Brawijaya dipilih sebagai bentuk penghargaan terhadap UB yang menjadi tempat berkembangnya riset biodiversitas.

"Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya," kata Prof. Hagus kepada wartawan pada Senin, 06 Juli 2026.

Proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu kering yang jatuh di tanah. Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu. Di antaranya pinus, kopi, sonokembang, pohon Ficus, dan jenis kayu lainnya. Kayu-kayu ini menjadi tempat tumbuh jamur yang menjadi sumber makanan kumbang.

Kumbang ambrosia memiliki keunikan tersendiri. Mereka hidup bersimbiosis dengan jamur. Serangga ini membuat terowongan di dalam kayu. Di dalam terowongan itulah mereka menumbuhkan jamur sebagai makanannya.

"Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest," jelas Prof. Hagus.

Dalam proses identifikasi, tim menggunakan dua pendekatan utama. Pertama, analisis morfologi. Kedua, analisis molekuler berbasis DNA.

Pendekatan morfologi dilakukan dengan membandingkan karakteristik fisik spesimen. Para peneliti membandingkannya dengan koleksi yang tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Sementara itu, analisis molekuler dilakukan dengan mengekstraksi DNA. DNA tersebut kemudian dibandingkan dengan sekuens genetik di basis data internasional.

"Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia," ujarnya.

Prof. Hagus menambahkan, pihaknya juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaan secara genetik. Jika hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan dengan spesies yang sudah diketahui sebelumnya, maka spesimen itu bisa ditetapkan sebagai spesies baru.

Spesimen Amasa brawijaya kini disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). Museum ini dikelola oleh BRIN. Spesimen tersebut dijadikan koleksi ilmiah dan referensi untuk penelitian biodiversitas Indonesia.

Temuan empat spesies baru ini menunjukkan bahwa hutan tropis Indonesia punya potensi besar. Kawasan UB Forest di Jawa Timur, misalnya, bisa berfungsi sebagai laboratorium alam untuk penelitian biodiversitas. Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap konservasi keanekaragaman hayati, riset semacam ini menjadi penting. Penelitian ini memperkuat basis data ilmiah tentang spesies serangga. Terutama kelompok kumbang yang belum banyak dikenal masyarakat umum.

Bagi UB, penelitian ini tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah internasional. Lebih dari itu, riset ini memperkuat posisi universitas sebagai pusat penelitian kumbang ambrosia di Indonesia.

Prof. Hagus menilai kajian mengenai kumbang ambrosia masih sangat terbatas. Kondisi ini membuka peluang besar bagi UB untuk menjadi pionir dalam bidang tersebut. "Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya," pungkasnya.

Penemuan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati Indonesia masih menyimpan banyak hal yang belum terungkap. Riset kolaboratif semacam ini, yang melibatkan institusi dalam dan luar negeri, memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal bisa berkontribusi pada sains global. Hutan tropis Indonesia bukan hanya paru-paru dunia, tapi juga laboratorium alam yang terus menghasilkan data-data baru tentang keanekaragaman hayati. Nama Brawijaya kini tercatat dalam nomenklatur ilmiah, sebuah warisan yang akan terus dipelajari oleh peneliti dari berbagai negara di masa mendatang.

kumbang ambrosiaspesies baruUB ForestbiodiversitasUniversitas BrawijayaAmasa brawijayapenelitian kolaboratif

Komentar

Memuat komentar...