Format Pelatihan Manajer Kopdeskel Diubah, Ditambah Soft Skill

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Format Pelatihan Manajer Kopdeskel Diubah, Ditambah Soft Skill

Gambar atau konten salah?

Pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel Merah Putih) yang sempat ramai dibicarakan karena menggunakan metode ala militer kini mengalami perubahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyatakan sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan untuk mengevaluasi program tersebut.

Hasil koordinasi itu membuahkan perubahan format pelatihan. Ferry mengakui evaluasi sudah dilakukan dan formatnya diubah. Salah satu perubahan signifikan adalah penambahan jumlah hari pelatihan. Waktu tambahan ini akan diisi dengan materi soft skill untuk melengkapi pengetahuan para calon manajer.

"Kemarin sudah dievaluasi, alhamdulillah dari pihak Kementerian Pertahanan juga sudah mau mengevaluasi. Bahkan formatnya juga sudah berubah, kami di Kementerian Koperasi mendapatkan tambahan hari. Tambahan hari yang diberikan kepada kami akan kita berikan bagaimana (cara) interaksi sosial, soft skill, segala macam yang akan melengkapi pengetahuan mereka," ujar Ferry dalam sebuah acara pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Dari total 45 hari masa pelatihan, sebanyak 15 hari akan digunakan untuk pengajaran tentang manajemen, keuangan, koperasi, dan hal-hal terkait lainnya. Ferry menekankan bahwa keberhasilan Kopdeskel Merah Putih di suatu daerah sangat bergantung pada kemampuan manajernya.

"Sekarang yang terpenting bukan bangunan fisik (koperasinya) yang keren, bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan barang dagangannya. Tapi, kemampuan manajer-manajer Koperasi Desa itu sangat menentukan keberhasilan operasional dari Kopdeskel Merah Putih," tambahnya.

Menurut Ferry, faktor penentu keberhasilan Kopdeskel Merah Putih ada pada sisi operasionalisasi. Para manajer tidak hanya dituntut bisa mengembangkan koperasi pelat merah tersebut, tetapi juga harus mampu memetakan feasibility study untuk kegiatan ritel hingga keuangan mikro.

"Teman-teman semuanya harus bisa selain bagaimana mengembangkan usaha dari Kopdeskel Merah Putih, karena model bisnis dan feasibility study yang nanti akan dijadikan pedoman para manajer itu harus juga bagaimana (diterapkan) feasibility study untuk kegiatan ritelnya, untuk keuangan mikronya, untuk gerai obat dan kliniknya, gudang dan logistiknya," bebernya.

Ferry menegaskan bahwa semua aspek itu harus dikemas dan diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Ia menyebut posisi manajer Kopdes sebagai pemimpin sekaligus CEO. Key Performance Indicator (KPI) koperasi ini harus untung dan profit. Namun, Ferry juga mengingatkan bahwa bisnis di mana pun membutuhkan waktu dan proses trial and error.

"Itu 'kan harus dikemas, diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Jadi, manajer Kopdes ini dia pemimpin, dia CEO-nya. Dan KPI Kopdes ini harus untung, harus profit. Tapi juga namanya bisnis, di manapun perlu waktu, trial and error," pungkas Ferry.

Pelatihan calon manajer Kopdeskel Merah Putih awalnya menuai sorotan karena pendekatan militer yang diterapkan. Setelah evaluasi, pemerintah memutuskan untuk menyeimbangkan pelatihan dengan materi soft skill dan manajemen bisnis. Perubahan ini menunjukkan bahwa kemampuan interpersonal dan pengetahuan teknis sama pentingnya dengan disiplin dalam mengelola koperasi desa.

pelatihanmanajerKopdeskel Merah Putihevaluasisoft skillKementerian KoperasiFerry Juliantono

Komentar

Memuat komentar...