Kebangkrutan Usaha Jepang Tertinggi dalam 12 Tahun
Gambar atau konten salah?
Jepang sedang menghadapi gelombang kebangkrutan usaha yang cukup serius. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah perusahaan yang bangkrut pada semester pertama tahun 2026 mencapai angka tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Lembaga riset Tokyo Shoko Research mencatat sebanyak 5.346 perusahaan telah bangkrut hingga Juni 2026. Angka ini meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan nilai tukar yen disebut sebagai salah satu pemicu utama.
"Angka tersebut muncul di tengah melemahnya mata uang yen yang mempercepat inflasi, sehingga menekan keuangan bisnis, khususnya usaha kecil dan menengah," jelas Tokyo Shoko Research dalam laporannya.
Yang cukup memprihatinkan, sekitar 90% dari bisnis yang bangkrut adalah usaha kecil dengan kurang dari 10 karyawan. Kebangkrutan ini juga melibatkan utang minimal 10 juta yen, atau sekitar Rp 1,11 miliar jika menggunakan kurs Rp 111 per yen.
Perusahaan dengan utang di bawah 100 juta yen, atau setara Rp 11,1 miliar, mencakup hampir 80% dari total kebangkrutan. Artinya, banyak pengusaha kecil di Jepang tidak hanya kehilangan usahanya, tapi juga harus menanggung beban utang yang besar.
Seorang pejabat dari Tokyo Shoko Research memperingatkan situasi bisa memburuk. "Dengan kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan juga menjadi hambatan, laju kebangkrutan mungkin akan meningkat mulai musim gugur," katanya.
Data menunjukkan dua penyebab utama kebangkrutan mengalami lonjakan signifikan. Kebangkrutan akibat kenaikan harga meningkat 27,6% dibandingkan tahun lalu. Sementara kebangkrutan karena kekurangan tenaga kerja naik 37,7% pada pertengahan tahun ini.
Dari sisi sektor industri, 8 dari 10 sektor mengalami peningkatan kebangkrutan. Sektor jasa menjadi yang terparah dengan 1.819 kasus, naik 7,2% dari tahun 2025. Sektor konstruksi menyusul dengan 1.026 kasus kebangkrutan.
"Restoran dan pengecer makanan paling terpukul akibat pengurangan pengeluaran konsumen, sementara bisnis semakin mencapai batas kemampuan mereka untuk membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan melalui harga produk yang lebih tinggi," terang Tokyo Shoko Research.
Secara regional, hampir semua wilayah Jepang mencatat peningkatan kebangkrutan, kecuali Tohoku. Wilayah Hokuriku mengalami lonjakan tertinggi sebesar 37,3%, diikuti Hokkaido dengan kenaikan 17,1%.
Kondisi ini menggambarkan tekanan ekonomi yang meluas di Jepang. Kombinasi antara yen yang lemah, inflasi tinggi, dan kekurangan tenaga kerja menciptakan lingkungan bisnis yang sulit, terutama bagi usaha kecil yang tidak memiliki banyak ruang untuk menaikkan harga atau menambah karyawan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Korupsi KUR Rp41,4 Miliar, Pengamat Sebut Pola Lama
OJK Serahkan Tersangka Kasus BPR SAWA ke Kejari Sidoarjo
Diskon Transmart: Sepeda Anak Mulai Rp 1,03 Juta
1,5 Juta Warga Singapura Terima Voucher Tunai Hingga Rp11,89 Juta
Transmart Full Day Sale: Diskon TV LG hingga Rp 1,1 Juta
Transmart Full Day Sale: Diskon 50%+20% Besok
Berita Terbaru