Gagal Ginjal Muda: Penyebab Gaya Hidup Tidak Sehat

Hari W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gagal Ginjal Muda: Penyebab Gaya Hidup Tidak Sehat

Gambar atau konten salah?

Gagal ginjal sudah tidak lagi menjadi masalah yang hanya dialami oleh orang tua. Banyak orang muda, bahkan di usia dua puluhan, yang mengalami kondisi ini. Salah satu contoh nyata adalah seorang wanita di Bandung yang bernama Della. Ia didiagnosis gagal ginjal stadium akhir ketika berusia 25 tahun, sementara penyakit ginjal pertama kali terdeteksi pada usia 22 tahun.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr Tunggul Situmorang, SpPD‑KGH, penyebab utama gagal ginjal pada usia muda biasanya berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat. Namun ia menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal. Gagal ginjal adalah proses yang berlangsung lama dan progresif.

Garam adalah salah satu faktor utama yang dapat memicu masalah ginjal. Diketahui bahwa diet tinggi natrium dapat meningkatkan tekanan darah, dan tekanan darah tinggi berpotensi merusak ginjal. Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD‑KGH, menekankan pentingnya mengurangi konsumsi garam. Ia menyoroti kebiasaan ngemil di Indonesia, yang seringkali mengandung garam tinggi. “Ngemil makanan asin jelas mengandung garam yang tinggi. Garam itu meningkatkan hipertensi, kalau tidak terkendali itu risikonya (gagal ginjal, red) meningkat jadi harus dikurangi ya,” kata dr Pringgo.

Kurang aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko. “Misal ke toko dekat rumah saja pakai kendaraan ya, jadi kurangnya aktivitas fisik itu bisa mengganggu fungsi ginjal,” ucap dr Pringgo. Menurut data Kementerian Kesehatan, orang berusia 18‑64 tahun disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150‑300 menit per minggu atau intensitas berat 75‑159 menit per minggu. Selain itu, setidaknya dua hari seminggu dianjurkan untuk latihan penguatan otot dan tulang, seperti sit‑up, push‑up, dan plank.

Studi tahun 2022 menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi makanan olahan memiliki risiko penyakit ginjal 24 % lebih tinggi. Makanan olahan biasanya mengandung banyak aditif buatan, gula tambahan, karbohidrat olahan, lemak tak sehat, dan natrium, namun rendah serat, protein, dan nutrisi penting. Gula berkontribusi pada obesitas, yang pada gilirannya meningkatkan risiko hipertensi dan obesitas—dua penyebab utama penyakit ginjal. Oleh karena itu, konsumsi gula berlebih dapat memicu kerusakan ginjal.

Kurangnya asupan cairan juga berbahaya bagi ginjal, terutama di cuaca panas. Air membantu ginjal membuang limbah dan mencegah pembentukan batu ginjal. Kekurangan cairan dapat memicu infeksi, peradangan, dan akhirnya batu ginjal. “Biasanya bertahap gejalanya dan melalui penyakit yang lain misalnya jadi risiko infeksi berulang karena kekurangan cairan, salurannya berisiko infeksi. Kemudian ada batu ginjal karena kekurangan cairan jadi zat‑zata pembentuk batu tinggi sehingga terjadi batu ginjal itu melalui hal tersebut,” ujar dr Pringgo. Orang dewasa disarankan minum air putih setara delapan gelas atau dua liter setiap hari.

Istirahat malam yang cukup juga penting. Siklus bangun‑tidur membantu mengatur beban kerja ginjal selama 24 jam. Menurut Mayo Clinic, orang dewasa disarankan tidur minimal 7 jam setiap malam. Kurang tidur dapat mengganggu fungsi ginjal dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Kasus Della mencerminkan bagaimana kombinasi faktor gaya hidup dapat memperburuk kondisi ginjal. Ia memiliki riwayat hipertensi sejak SMA, pola makan tidak teratur, serta penggunaan pil diet yang tidak terdaftar di BPOM. Ia mengakui, “Sebenarnya yang paling parah itu hipertensi ke ginjal kata dokter‑dokter, yang lainnya aku tuh minum pil diet. Jadi tiga bulan sebelum aku divonis, aku tuh minum obat diet kapsul herbal yang aku tuh salahnya nggak ngecek BPOM, nggak ngecek kandungannya, bukan dari dokter. Itu sih, itu fatalnya,” kata Della. Ia juga menambahkan, “Terus, aku tuh pola makannya juga nggak benar. Namanya lagi diet kan nggak lapar ya. Kan menekan nafsu makan. Udah makannya nggak benar, minum air putih kurang, obatnya nggak BPOM, nggak ke dokter, terus istirahat kurang, jam tidur berantakan,” katanya.

Kasus ini menegaskan bahwa gagal ginjal pada usia muda seringkali disebabkan oleh kombinasi hipertensi, pola makan buruk, kurang aktivitas, dan penggunaan obat tanpa pengawasan. Meskipun faktor genetik juga berperan, gaya hidup tetap menjadi aspek yang dapat diubah. Menurunkan konsumsi garam, meningkatkan aktivitas fisik, menghindari makanan olahan, menjaga hidrasi, dan tidur cukup dapat membantu mencegah kerusakan ginjal.

Kesimpulannya, gagal ginjal tidak hanya masalah usia tua. Faktor gaya hidup, terutama pada generasi muda, dapat memicu kondisi ini. Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, cukup minum air, dan tidur yang cukup menjadi langkah penting. Dengan kesadaran dan perubahan kebiasaan, risiko gagal ginjal dapat dikurangi secara signifikan.

Gagal ginjalusia mudagaram tinggihipertensiaktivitas fisikmakanan olahanhidrasi

Komentar

Memuat komentar...