Palpitasi Jantung: Penyebab dan Tanda Bahaya di Indonesia

Endah K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Palpitasi Jantung: Penyebab dan Tanda Bahaya di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Palpitasi adalah istilah medis yang menggambarkan perasaan jantung berdebar kencang, bergetar, atau berdenyut hebat. Meskipun sering menakutkan, kebanyakan kasus palpitasi tidak berbahaya dan biasanya bersifat sementara.

Berbagai faktor dapat memicu jantung berdetak lebih cepat. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Stimulan seperti kopi, minuman berkafein, atau obat-obatan tertentu.
  • Perubahan hormon, misalnya hormon tiroid yang berlebihan.
  • Stres dan kondisi psikis yang menambah tekanan saraf simpatis.
  • Olahraga, anemia, dehidrasi, atau penggunaan obat tertentu.

Menurut dr. Deddy Hermawan Susanto, SpJP(K), jantung berdebar dapat muncul dalam situasi tertentu, seperti saat bangun tidur. Ia menyatakan, “Bisa karena konsumsi kopi, kafein yang berlebih, bisa karena faktor lain dari psikis juga bisa,” kata dr Deddy kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Selain faktor-faktor di atas, Cleveland Clinic menambahkan beberapa penyebab lain:

  • Ketidaknyamanan emosional, seperti kecemasan atau panik.
  • Asupan makanan pedas atau berlemak yang dapat memicu detak jantung meningkat.
  • Posisi tidur miring yang meningkatkan tekanan pada tubuh.
  • Kehamilan, di mana volume darah dan detak jantung meningkat secara alami.
  • Gangguan hormon tiroid, baik berlebih maupun kurang.

Dr. Deddy juga menekankan bahwa masalah hormon tiroid dapat memicu palpitasi. Ia berkata, “Atau dari masalah gangguan hormon tiroid, karena peningkatan hormon tiroid juga bisa menyebabkan jantung berdebar lebih cepat, lalu beberapa kondisi tertentu misal rangsangan saraf simpatis yang tinggi,”

Mayo Clinic mengingatkan bahwa palpitasi juga dapat menjadi tanda masalah serius pada irama jantung. Kondisi tersebut dapat berupa:

  • Takikardia: detak jantung sangat cepat.
  • Bradikardia: detak jantung sangat lambat.
  • Irama jantung tidak teratur atau kombinasi dari keduanya.

Bagaimana cara mengetahui kapan harus waspada? Jika palpitasi jarang terjadi atau hanya berlangsung beberapa detik, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung atau sering mengalami palpitasi, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan untuk menilai apakah ada masalah jantung yang lebih serius.

Berikut tanda-tanda yang harus segera mendapatkan pertolongan medis:

  • Rasa tidak nyaman atau nyeri di dada.
  • Pusing parah.
  • Sesak napas parah.
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran.

Prosedur pemeriksaan biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik dasar dan pendengaran detak jantung menggunakan stetoskop. Jika dokter mencurigai adanya masalah jantung, beberapa tes berikut dapat dilakukan:

  • Elektrokardiogram (EKG): tes ini mengukur aktivitas listrik jantung dengan menempelkan elektroda di dada dan kadang di lengan serta kaki. Hasilnya menunjukkan apakah jantung berdetak terlalu cepat, lambat, atau tidak teratur.
  • Holter monitoring: alat EKG portabel yang dipakai selama satu hari atau lebih. Ini merekam denyut jantung secara kontinu, membantu menemukan palpitasi yang tidak terdeteksi pada EKG biasa.
  • Ekokardiogram (USG jantung): pemeriksaan non-invasif menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar bergerak jantung. Tes ini menilai aliran darah dan struktur jantung.

Walaupun palpitasi seringkali tidak berbahaya, penting bagi siapa pun yang mengalami gejala ini untuk memahami penyebabnya dan mengetahui kapan harus mencari bantuan medis. Dengan pemeriksaan yang tepat, kondisi jantung dapat dievaluasi secara akurat, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.

PalpitasiKafeinHormon TiroidStresTakikardiaHolter MonitoringEKG

Komentar

Memuat komentar...