Game Pass Gagal Capai Target, Microsoft Rugi Rp 1.442 Triliun

Fandi R. · 2 min baca · 1 jam lalu · 5 dibaca
Bisik.id
Game Pass Gagal Capai Target, Microsoft Rugi Rp 1.442 Triliun

Gambar atau konten salah?

Microsoft sudah mengeluarkan dana besar untuk mengembangkan Xbox dalam satu dekade terakhir. Tapi hasilnya belum sesuai harapan. Target yang dibidik masih jauh dari kenyataan.

Bloomberg melaporkan pada Kamis, 09 Juli 2026, bahwa perusahaan teknologi ini telah membelanjakan hampir USD 80 miliar atau sekitar Rp 1.442 triliun dalam 10 tahun. Uang sebanyak itu dipakai untuk menghidupkan kembali Xbox dan mewujudkan ambisi mereka terhadap Game Pass. Tapi hasilnya mengecewakan.

CEO Xbox, Asha Sharma, mengatakan taruhan besar itu dilakukan oleh kepemimpinan sebelumnya. Saat itu mereka menjalankan beberapa strategi, termasuk mengakuisisi studio dan merilis game di platform pesaing. Sharma mengakui upaya-upaya ini memang menghasilkan nilai bagi perusahaan, tapi tidak cukup untuk menutupi pertumbuhan yang ditargetkan.

Dalam proses akuisisi Activision, Microsoft menyatakan target memiliki 77 juta pelanggan Game Pass pada akhir tahun fiskal 2026. Itu berarti pada 30 Juni. Kenyataannya? Hanya 30 juta.

Angka 30 juta memang terlihat banyak. Tapi masih sangat jauh dari target. Bahkan jumlah itu sudah turun 4 juta pelanggan dari laporan terakhir Microsoft tentang layanan mereka.

Kondisi ini membuat karyawan Xbox khawatir. Kepala strategi Xbox, Matthew Ball, mengungkapkan pada Juni tahun ini bahwa "jutaan" orang membatalkan langganan Game Pass. Pembatalan terjadi setelah kenaikan harga hingga 50% yang diumumkan pada Oktober 2025.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan Game Pass? Ternyata strategi bayar untuk periode tertentu dan bebas memainkan game apa pun yang ada di dalamnya masih belum berhasil menarik minat gamer.

Analis Circana, Mat Piscatella, memberikan pendapatnya. Menurut dia, Game Pass gagal karena Fortnite dan sejumlah game lain dengan strategi serupa lebih berhasil menahan gamer memainkannya lebih lama. Game-game itu juga mampu mendorong pemain mengeluarkan uang untuk pembelian di dalam permainan.

"Masalah dengan Game Pass bukanlah layanannya sendiri, melainkan tujuan untuk menjual langganan dan layanan, seperti yang diincar Microsoft di seluruh bisnisnya saat itu. Call of Duty diluncurkan di Game Pass dan tidak secara signifikan meningkatkan jumlah pelanggan, dan hanya berdampak kecil pada penjualan perangkat keras. Dan hanya itu saja," kata Piscatella.

Bloomberg juga melaporkan bahwa mantan presiden Xbox, Sarah Bond, adalah pemimpin strategi Game Pass Xbox. Kabarnya Microsoft menghabiskan USD 1 miliar setiap tahun untuk kesepakatan game pihak ketiga. Tujuannya meyakinkan orang untuk mendaftar Game Pass. Upaya lain untuk memperluas Game Pass termasuk menawarkannya kepada basis pengguna PC yang besar dan pasar streaming.

Pengeluaran sebesar USD 80 miliar berasal dari akuisisi besar-besaran Microsoft. Mereka membeli Activision Blizzard seharga USD 75,4 miliar dan ZeniMax seharga USD 7,5 miliar. Microsoft juga membeli pengembang seperti Ninja Theory, Obsidian, dan Double Fine. Langkah ini merupakan inisiatif mantan eksekutif Xbox, Phil Spencer, untuk meningkatkan basis studio guna menciptakan lebih banyak game yang bisa dimainkan oleh anggota Game Pass sebagai bagian dari biaya keanggotaan mereka.

Dari laporan ini terlihat bahwa meskipun Microsoft sudah mengeluarkan dana sangat besar dan mengakuisisi banyak studio game ternama, strategi Game Pass belum berhasil mencapai target yang diinginkan. Penurunan jumlah pelanggan setelah kenaikan harga menunjukkan bahwa model langganan game ini masih menghadapi tantangan besar di tengah persaingan dengan game-game gratis yang menawarkan pembelian dalam aplikasi.

XboxGame PassMicrosoftakuisisipelangganpenurunanstrategi

Komentar

Memuat komentar...