Khofifah Dukung B50, Jatim Siap Jadi Motor Energi Nasional
Gambar atau konten salah?
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, hadir langsung saat Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program mandatori Biosolar atau Biodiesel B50. Acara itu berlangsung di SPBU 34.413.40, Rest Area KM 57A Tol Jakarta-Cikampek, Karawang.
Khofifah memuji langkah pemerintah di bawah Presiden Prabowo. Menurutnya, ini adalah strategi yang mempercepat perubahan menuju kemandirian energi nasional. B50, kata dia, bukan cuma soal memperkuat ketahanan energi. Ada efek lain: nilai tambah buat perkebunan, industri pengolahan, transportasi, hingga ekonomi daerah. Semua itu lewat hilirisasi dan aktivitas industri dalam negeri yang meningkat.
"Peluncuran B50 merupakan langkah besar menuju kedaulatan energi nasional. Kebijakan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki bangsa sendiri," ujar Khofifah.
Ia menegaskan, Pemprov Jatim mendukung penuh kebijakan ini. Jawa Timur, kata dia, siap jadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi nasional lewat implementasi B50.
Jawa Timur punya posisi strategis. Provinsi ini adalah salah satu pusat industri, manufaktur, perdagangan, dan logistik nasional. Itu artinya, Jatim bisa mendukung rantai pasok biodiesel—dari distribusi, pemanfaatan, sampai pengembangan industri pendukungnya.
"Jawa Timur memiliki seluruh modal untuk menjadi penggerak akselerasi energi berbasis biodiesel. Sebagai pusat industri dan logistik nasional, kami siap memastikan implementasi B50 berjalan optimal di daerah," katanya.
Menurut Khofifah, keberhasilan B50 butuh kerja sama. Bukan cuma pemerintah pusat dan daerah. BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat juga harus terlibat. Kalau semua bergerak, manfaatnya bisa dirasakan banyak orang.
"Sinergi pemerintah, dunia usaha, BUMN, akademisi, dan masyarakat akan menjadi kunci agar manfaat B50 tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat," imbuhnya.
Khofifah menyebut, biodiesel memberi efek berganda. Impor solar bisa ditekan. Devisa negara hemat. Hilirisasi industri sawit makin kuat. Lapangan kerja terbuka. Investasi naik. Ekonomi daerah tumbuh.
"Semangat yang dibangun melalui B50 bukan sekadar menghadirkan bahan bakar alternatif, tetapi membangun kemandirian bangsa. Ketika kebutuhan energi semakin banyak dipenuhi dari sumber daya dalam negeri, maka ketahanan ekonomi nasional juga akan semakin kuat," jelasnya.
Jawa Timur, kata Khofifah, sudah punya ekosistem industri yang bisa menopang transisi energi. Ada kawasan industri, jaringan pelabuhan, infrastruktur logistik, sektor transportasi dan manufaktur yang berkembang. Semua itu modal penting.
Ia yakin, dengan kolaborasi semua pihak, implementasi B50 bakal optimal. Ini juga jadi fondasi untuk pengembangan bahan bakar nabati dengan kandungan lebih tinggi di masa depan.
"B50 menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghadirkan solusi energi yang berbasis pada kekuatan nasional. Ini bukan hanya soal energi, tetapi juga tentang penguatan industri, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan ekonomi yang semakin inklusif dan berkelanjutan," ungkapnya.
Kebijakan ini, kata Khofifah, sejalan dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca. Biodiesel diharapkan memberi manfaat ekonomi sekaligus lingkungan—lewat pengurangan emisi dari sektor transportasi dan industri.
Di akhir, Khofifah mengajak semua pemangku kepentingan di Jawa Timur mendukung B50. Masing-masing sesuai kewenangannya. Biar manfaatnya sampai ke masyarakat dan dunia usaha.
"Jawa Timur siap menjadi bagian penting dalam akselerasi transisi energi nasional. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kami optimistis implementasi B50 akan semakin memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan," tandasnya.
Peluncuran B50 ini adalah bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri—khususnya kelapa sawit—pemerintah berharap bisa memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan industri, dan menciptakan lapangan kerja. Jawa Timur, dengan infrastruktur industrinya yang sudah mapan, dipandang sebagai salah satu daerah yang bisa menjadi motor penggerak kebijakan ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Khofifah Dukung B50, Jatim Siap Jadi Motor Energi Nasional
Indonesia Resmi Luncurkan Program Mandatori Biodiesel B50
BPBD Bali Jadikan Command Center 112 Gianyar Acuan BES
DPR Dorong PRSU Masuk Kalender Nasional
Pemain Cadangan Cetak 18,6% Gol di Piala Dunia 2026
Cafu Ramal Brasil Tersingkir, Terbukti
Prancis Efisien, Maroko All-Out di Piala Dunia
Pelatihan Brevet Pajak AB: Praktik Langsung Isi SPT
