Gelombang Panas Prancis Tewaskan 2.025 Orang

Dedi S. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Gelombang Panas Prancis Tewaskan 2.025 Orang

Gambar atau konten salah?

Prancis saat ini sedang dilanda gelombang panas yang sangat ekstrem. Dampaknya sungguh mengerikan: angka kematian di negara tersebut melonjak hingga 30 persen. Data dari badan kesehatan masyarakat Prancis, Public Health France, menunjukkan bahwa di wilayah Paris saja, jumlah kematian meningkat sekitar 62 persen pada periode yang sama.

Para ilmuwan dengan tegas menyatakan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia menjadi dalang di balik gelombang panas dahsyat yang melanda Eropa pada akhir Juni lalu. Layanan cuaca Meteo-France mencatat, Juni tahun ini menjadi bulan terpanas di Prancis sejak tahun 1947. Gelombang panas ini berlangsung dari tanggal 17 hingga 30 Juni 2026.

Selama periode tersebut, suhu di lebih dari 40 persen wilayah Prancis melonjak drastis hingga melebihi 40 derajat Celsius. Kondisi ini memicu berbagai masalah. Pemerintahan Perdana Menteri Sebastien Lecornu, misalnya, harus menghadapi mosi tidak percaya di parlemen. Alasannya? Diduga kurang siap menghadapi suhu ekstrem seperti ini. Sekolah-sekolah terpaksa ditutup, dan perjalanan kereta api dibatalkan.

Keadaan semakin sulit bagi warga biasa. Setidaknya satu dari tiga rumah di Prancis memiliki isolasi yang buruk, tidak memadai untuk menghadapi gelombang panas. Akibatnya, banyak warga yang tidak memiliki penutup jendela (blind) berusaha mendinginkan rumah mereka dengan cara darurat. Mereka menutupi jendela dengan selimut atau mengecatnya dengan cat berbahan dasar kapur. Semua itu dilakukan demi menurunkan suhu di dalam rumah yang terasa sangat panas.

Otoritas kesehatan Prancis mencatat lonjakan kematian yang signifikan sejak 22 Juni, saat suhu mencapai puncaknya. Tercatat ada peningkatan sebesar 29,1 persen, yang setara dengan 2.025 kematian tambahan. Yang menarik, badan kesehatan masyarakat mencatat adanya peningkatan angka kematian yang "nyata" di kalangan penduduk berusia 45 hingga 64 tahun. Meski begitu, kelompok usia 65 tahun ke atas tetap menyumbang proporsi terbesar dari angka kematian tersebut.

Gelombang panas ini bukan sekadar cuaca panas biasa. Dampaknya nyata dan langsung terasa: mulai dari krisis politik, lumpuhnya transportasi, hingga meningkatnya angka kematian. Fakta bahwa warga harus menggunakan selimut untuk menutup jendela menunjukkan betapa tidak siapnya infrastruktur rumah tinggal di Prancis menghadapi suhu ekstrem yang kini semakin sering terjadi.

gelombang panasPrancisangka kematianperubahan iklimsuhu ekstreminfrastrukturkrisis

Komentar

Memuat komentar...