Pabrik Kaleng Rp200 Miliar Resmi Beroperasi di Banyuwangi
Gambar atau konten salah?
Sebuah pabrik kaleng berskala internasional resmi beroperasi di Banyuwangi, Jawa Timur. Pabrik ini merupakan hasil kerja sama antara Pacific Harvest Group dengan perusahaan asal China, Sunrise Group. Fasilitas produksi ini diklaim sebagai satu-satunya di Jawa Timur yang berstandar internasional.
Pabrik yang beroperasi di bawah perusahaan patungan bernama PT Sunrise Masami Internasional ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Pabrik ini nantinya akan memasok kemasan kaleng berkualitas tinggi untuk produk sarden dan berbagai merek minuman bersoda.
Dalam sambutannya, Khofifah menyebut Chairman Pacific Harvest Group, Aminoto Kurniawan, sebagai pengusaha yang inovatif dan mampu membaca peluang bisnis berskala internasional. Menurut Khofifah, kehadiran pabrik ini menjadi jawaban atas ketergantungan Indonesia terhadap impor kemasan kaleng.
"Ini adalah bagian dari penguatan industri substitusi impor. Bagaimana ternyata banyak produk yang kalengnya diimpor. Hari ini produk substitusi impor ternyata bisa diproduksi di dalam negeri," kata Khofifah usai meresmikan PT Sunrise Masami Internasional di Muncar, Jumat, 03 Juli 2026.
Khofifah menambahkan, di tengah fluktuasi nilai tukar mata uang yang sering menjadi tantangan bagi pelaku impor, kehadiran industri lokal memberikan harapan baru bagi perekonomian nasional.
"Ketika currency serta penempatan nilai tukar menjadi hitung-hitungan dan kalkulasi bisnis bagi mereka yang melakukan impor, maka hari ini sebetulnya ada harapan baru (new hope), ada kabar baik (good news) bahwa industri substitusi impor ini akan dilakukan di PT Sunrise Masami Internasional, terutama pada produk industri kaleng. Bersama-sama kita menguatkan industri substitusi impor ini," tegasnya.
Dia juga menilai Pacific Harvest telah berhasil menerapkan konsep hilirisasi "Petik, Olah, Kemas, Jual" yang menurutnya telah ia gaungkan sejak awal 1990-an. Ia memuji Aminoto Kurniawan yang akrab disapa Pak Ami sebagai sosok pengusaha yang mampu mewujudkan konsep tersebut secara nyata.
"Pak Ami ini sosok pengusaha yang melakukan hilirisasi yang luar biasa. Saya sering menyatakan, mulai dari tahun 1992 saat saya di Komisi VIII DPR RI, saya selalu berpesan: petik, olah, kemas, jual, dan di Pasific Harvest ini Pak Ami mampu mempraktikannya secara nyata. Ikan yang ditangkap nelayan ia panen, diolah menjadi sarden dan beberapa product turunannya, dikemas dengan baik lalu dijual dengan tidak sembarangan. Jualnya ke luar negeri dan nilai tambah (added value) itu sangat dirasakan," kenang Khofifah.
Marketing Director Pacific Harvest Group, Sherly Indrawati Aminoto, mewakili Chairman Pacific Harvest Group Aminoto Kurniawan, mengungkapkan bahwa pabrik tersebut dibangun dengan kapasitas produksi yang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Dengan nilai investasi lebih dari Rp200 miliar, pabrik tersebut mampu memproduksi hingga 600 juta kaleng setiap tahun.
"Kapasitas produksi kami dalam 1 tahun mencapai 600 juta pieces kaleng, dengan produksi per bulan berada di angka 50 juta kaleng," ujar Sherly.
Sherly menjelaskan, perusahaan menargetkan pengembalian investasi dalam waktu lima hingga delapan tahun. Kerja sama dengan Sunrise Group difokuskan pada pengembangan lini produksi badan kaleng (body) dan tutup kaleng (easy open end).
"Saat ini kami berinvestasi besar pada tutupnya, karena sebelumnya kami sudah investasi pada body. Investasi untuk tutup ini ternyata 70 persen lebih mahal. Produksi tutup kaleng jauh lebih sulit daripada body karena ada mekanis kunci (easy open end) yang tingkat kesulitannya tinggi," jelas Sherly.
Meski membutuhkan teknologi tinggi dan investasi besar, pembangunan pabrik ini diklaim mampu menekan biaya operasional perusahaan hingga 10-15 persen. Pabrik tersebut juga menyerap sekitar 200 tenaga kerja karena sebagian besar proses produksinya telah menggunakan sistem otomatisasi.
Di tengah kondisi geopolitik global yang belum stabil dan fluktuasi nilai tukar rupiah, Sherly menilai keberadaan pabrik kaleng tersebut menjadi solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan industri pengalengan, khususnya bagi produk sarden.
Chairman Sunrise Group, Lam Wing Po atau Eric, mengatakan pihaknya optimistis menanamkan investasi di Banyuwangi. Menurutnya, Sunrise Group telah beroperasi selama 30 tahun dan memiliki lebih dari 30 basis produksi yang melayani berbagai merek internasional.
"Kami telah menjalin kerja sama strategis jangka panjang dengan berbagai merek papan atas internasional yang kita ketahui seperti Coca-Cola. Kami memproduksi lebih dari 10 miliar kaleng setiap tahun dengan total aset tahunan lebih dari 10 miliar RMB atau setara sekitar Rp26,47 triliun," ungkapnya.
Eric menegaskan Sunrise Group berkomitmen membangun bisnis jangka panjang di Banyuwangi dengan mematuhi seluruh peraturan yang berlaku. Selain itu, perusahaan juga akan menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Pabrik kaleng ini menjadi contoh nyata bagaimana industri dalam negeri mulai mengambil alih peran yang sebelumnya didominasi oleh produk impor. Dengan investasi besar dan teknologi tinggi, langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok industri pengalengan di Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
24 SMP Negeri di Ponorogo Kebingungan Isi Kursi Kosong
Fathoni Dorong Pemkot Surabaya Terus Berinovasi Hadapi Tantangan Fiskal
16 Tim Bertahan di Piala Dunia 2026
Wali Kota Probolinggo Resmi Buka Semipro 2026
TPS3R Kertosari Dibangun, Banyuwangi Target Kurangi Sampah Kota
Dosen Unair Curhat Gaji Rp2,6 Juta, Kampus Buka Suara
Berita Terbaru
Pabrik Kaleng Rp200 Miliar Resmi Beroperasi di Banyuwangi
Ronaldo Tak Ucap Bismillah, Ini Kata Aslinya
Messi Akui Argentina Kesulitan Kalahkan Tanjung Verde
Gelombang Panas Pacu Eropa Banjir-Banjir AC China
IHSG Melemah 0,35% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut
BRI Beri Diskon 25% Tiket Prambanan Jazz 2026
