Gunung Merbabu Membeku, Pendaki Waspada
Gambar atau konten salah?
Puncak Gunung Merbabu dilaporkan membeku. Embun es menyelimuti area tersebut. Para pendaki diminta meningkatkan kewaspadaan.
Suhu udara yang sangat dingin belakangan ini memicu terbentuknya embun beku di puncak Gunung Merbabu. Suhu di sana bahkan bisa mencapai -1°C. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengingatkan pendaki untuk waspada terhadap hipotermia.
"Nggih, leres (Iya, betul). Sampai weekend (akhir pekan) kemarin fenomena embun beku ini masih sering terjadi di jalur pendakian Gunung Merbabu," kata Humas BTNGMb, Dian Saraswati.
Pemantauan suhu dan kelembaban udara oleh petugas di jalur pendakian menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu mulai mengalami fenomena bediding. Bediding adalah penurunan suhu udara secara ekstrem yang biasa terjadi pada musim kemarau di daerah pegunungan.
"Kondisi dingin yang ekstrem pada malam hingga dini hari ini berpotensi tinggi memicu hipotermia bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan dengan matang," jelas dia.
Petugas BTNGMb memantau suhu dan kelembaban di area Pos Sabana 1. Pemantauan menggunakan termometer dan higrometer pada tanggal 09 Juli 2026 hingga 10 Juli 2026.
Hasilnya, pada tanggal 09 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu udara mencapai 6 derajat Celcius. Tingkat kelembabannya 54 persen.
"Kemudian pada tanggal 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB suhu udara -1 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban 46 persen," ungkap Dian.
Lalu pada pukul 06.00 WIB, suhu udara meningkat lagi menjadi 3 derajat Celcius. Tingkat kelembabannya 44 persen.
"Data tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu pada musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat Celcius. Bahkan mencapai -1°C pada dini hari. Kondisi ini sejalan dengan penjelasan BMKG mengenai fenomena mbediding yang terjadi selama puncak musim kemarau, bahkan berdasarkan data telah terbentuk embun beku," imbuhnya.
Dari foto dokumentasi pemantauan BTNGMb, puncak Gunung Merbabu tampak berselimut embun beku. Rerumputan tampak memutih karena tertutup embun beku.
Waspadai Gejala Hipotermia
Atas kondisi tersebut, BTNGMb mengingatkan para pendaki untuk mewaspadai gejala hipotermia. Paparan suhu udara yang sangat rendah, tiupan angin, serta kondisi pakaian yang basah atau lembap dapat meningkatkan risiko hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C.
Pendaki diminta mengenali gejala awal hipotermia. Mereka wajib peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri maupun teman sekelompoknya. Gejala hipotermia antara lain menggigil hebat secara terus-menerus. Bibir, kuku, dan ujung-ujung jari mulai memucat atau membiru.
"Penurunan konsentrasi dan mulai sulit berpikir jernih. Cara berbicara mulai terbata-bata atau pelo dan tubuh terasa lemas tak bertenaga disertai rasa kantuk yang berat," terang dia.
Apabila gejala tersebut mulai muncul, pihaknya mengimbau para pendaki untuk tidak memaksakan melanjutkan perjalanan. Segera cari lokasi yang terlindung dari angin. Ganti pakaian yang basah dengan pakaian kering.
Kemudian hangatkan tubuh secara bertahap. Konsumsi minuman hangat apabila memungkinkan. Segera laporkan kepada petugas apabila kondisi tidak membaik.
Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, menegaskan keselamatan para pendaki adalah prioritas mutlak. Hal itu tidak boleh dikompromikan oleh estetika panorama kemarau. Musim kemarau memang menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang sangat indah dengan langit yang bersih.
"Namun, selaras dengan peringatan BMKG mengenai puncak kemarau, fenomena mbediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1 derajat Celcius di lapangan. Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat," tegasnya.
Pihaknya mengajak seluruh komunitas pencinta alam dan masyarakat luas untuk bersama-sama menerapkan prinsip safety first. Tujuannya demi mewujudkan aktivitas wisata alam yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.
Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena penurunan suhu udara yang signifikan ini merupakan siklus alam yang normal. Siklus ini terjadi saat memasuki puncak musim kemarau. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mendatang.
Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Elevasi yang tinggi membuat penurunan suhu di Gunung Merbabu terasa jauh lebih ekstrem.
Fenomena embun beku di Gunung Merbabu adalah peristiwa alam yang terjadi secara musiman. Data dari BTNGMb dan BMKG menunjukkan bahwa suhu ekstrem hingga di bawah titik beku adalah hal yang wajar selama puncak kemarau. Pendaki perlu mempersiapkan diri secara fisik dan perlengkapan, serta memahami tanda-tanda bahaya hipotermia, agar pendakian tetap aman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bupati Klungkung Siap Deportasi Turis Nakal di Nusa Penida
Prabowo Terbitkan Inpres Selamatkan Gajah Sumatra dan Kalimantan
Kunjungan Wisman Capai 1,38 Juta di Mei 2026
Indonesia Tambah 6 Negara Bebas Visa, Termasuk Turki dan Brasil
Kebun Binatang Siapkan Lumpur dan Es Krim untuk Satwa Saat Panas
Ramalan Moo Deng Meleset, Prancis Tersingkir
Berita Terbaru
Gunung Merbabu Membeku, Pendaki Waspada
Mogok Buruh Hyundai: Upah dan Ketakutan Robot Humanoid
Anggie Intania Chalik Raih Emas Asian Boxing U19
Shin Tae-yong Mulai Latihan Perdana Persija, Fokus Fisik
XLSmart Menang Lelang Frekuensi 700 MHz, Bayar Rp1 Triliun
Tiara Julianti Raih Beasiswa Penuh di Kedokteran UGM