Harga Bahan Baku Kapal Naik 20% Karena Dolar Menguat
Gambar atau konten salah?
Pengusaha di industri galangan kapal nasional di Jakarta mengeluhkan kenaikan harga bahan baku. Perubahan ini dipicu oleh apresiasi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Umum Iperindo, Anita Puji Utami, menegaskan bahwa tekanan pada industri galangan kapal semakin terasa karena ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ia menambahkan, “Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri,” kata Anita dalam keterangannya, 08 Juni 2026.
Menurut data yang dikumpulkan Iperindo, harga beberapa bahan baku mengalami lonjakan signifikan. Berikut rincian kenaikan:
- Solar B40 naik 89,19%
- LPG 12 kilogram meningkat 16,16%
- LPG 50 kilogram naik 26,51%
- Pelat baja, bahan pokok pembangunan kapal, naik antara 7-12%
- Cat kapal mengalami kenaikan sekitar 21%
- Zinc anode naik 12,87%
- Aluminium anode naik 13,61%
- Oli untuk mesin dan peralatan galangan naik antara 15-40%
- Bahan plastik meningkat sekitar 30-50%
Industri galangan kapal nasional masih sangat bergantung pada komponen impor. Sekitar 45% kebutuhan material dan peralatan berasal dari luar negeri, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Untuk menjaga kelangsungan usaha dan kualitas layanan, beberapa galangan kapal terpaksa menyesuaikan tarif reparasi kapal. Kenaikan tarif diperkirakan mencapai sekitar 20% sebagai upaya mengimbangi lonjakan biaya produksi.
Selama proyek pembangunan kapal baru yang masih berjalan, para pelaku industri tengah melakukan pembahasan dan negosiasi dengan pemilik kapal atau owner terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
Ketua Iperindo mengungkapkan, “Iperindo berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap kondisi yang dihadapi industri galangan kapal nasional agar sektor strategis ini tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, serta mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia,” kata Anita.
Dengan harga bahan baku yang terus meningkat, industri galangan kapal di Indonesia menghadapi tantangan besar. Ketergantungan pada impor dan fluktuasi nilai tukar menambah beban biaya, sementara upaya menyesuaikan tarif reparasi dan negosiasi proyek baru menjadi strategi penting untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Pemerintah dan sektor swasta diharapkan dapat bekerja sama guna menstabilkan kondisi industri maritim nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Unilever Indonesia Bayar Dividen Penuh Rp7,63 Triliun
DJP Blokir Rekening Wajib Pajak Papua, Papua Barat, Maluku
Unilever Indonesia Dividen Rp 201, Penjualan Naik 4,3%
KAI Rencanakan Gabung Stasiun Karet & BNI City pada 2026
Menteri Pertanian Tegaskan Harga TBS Kelapa Sawit Normal
Tegas Tak Tunda, Pemerintah Pasok Telur ke MBG Jawa Timur
Berita Terbaru
Banjir Rob di Rembang Karena Gelombang Laut Timur Minggu Ini
PIN SPMB SMA/SMK Jawa Timur Hampir Selesai, Simulasi Dibuka
Lalu Lintas Terganggu Aksi Rutin di Depan Gedung Grahadi
IHSG Turun 2,87%: Saham BUMN Terkena Dampak Besar Hari Ini
Unilever Indonesia Bayar Dividen Penuh Rp7,63 Triliun
DJP Blokir Rekening Wajib Pajak Papua, Papua Barat, Maluku
