KAI Rencanakan Gabung Stasiun Karet & BNI City pada 2026
Gambar atau konten salah?
KAI mengumumkan rencana penggabungan Stasiun Karet dan BNI City yang sempat direncanakan selesai pada Desember 2025. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyatakan bahwa integrasi ini belum terealisasi hingga saat ini.
Di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin, 08 Juni 2026, Bobby menegaskan, “Segera tahun ini, pokoknya kita bikin akan senyaman mungkin. Kita lihat akhir tahun, November, Desember,”. Ia menambahkan bahwa target pelaksanaan dapat dicapai pada November 2026 atau Desember 2026.
Untuk meningkatkan kenyamanan, KAI akan memasang fasilitas travelator atau eskalator datar mirip yang biasa ditemui di bandara. Bobby mengungkapkan komitmen perusahaan, “Pokoknya pelanggan di Jabodetabek itu akan kita bikin senyaman mungkin. Travelator kita bikin itu, kayak di bandara-bandara gitu lah,”.
Alasan utama penggabungan ini adalah jarak antar kedua stasiun yang sangat dekat, hanya 150 meter. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 03 Juni 2026, Bobby menjelaskan, “Jadi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City ini jaraknya cuma 150 meter, jadi kereta jalan, habis itu ngerem lagi. Dan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas di stasiun karet ini cukup tinggi.”
Rencana selanjutnya adalah mengubah Stasiun Karet menjadi selasar yang dilengkapi travelator. Namun, semua proses tap in dan tap out tetap dilakukan di Stasiun BNI City. Bobby menutup pernyataannya, “Sehingga rencananya nanti Stasiun Karet ini kita hanya akan bikinkan dia kayak slasar gitu ya. Demi kenyamanan penumpang juga nanti kita akan bikinkan travelator. Jadi semua nanti, gate-in dan gate-outnya itu ada di stasiun BNI City.”
Penggabungan ini diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan akibat jarak pendek dan mempermudah mobilitas penumpang di wilayah Jabodetabek. Dengan fasilitas baru, KAI berupaya menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih lancar dan aman bagi semua pengguna.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
