Harga Minyak Melonjak, Lalu Anjlok
Gambar atau konten salah?
Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan yang tidak menentu dalam beberapa hari terakhir. Semua ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, harga minyak mentah Brent melonjak hingga 7%. Ini adalah pertama kalinya sejak Mei harga Brent ditutup di atas level US$ 100 per barel.
Namun, keesokan harinya, Jumat, 24 Juli 2026, harga Brent justru melemah. Berdasarkan data dari Reuters, minyak mentah Brent turun 72 sen atau 0,72% menjadi US$ 99,97 per barel. Meski begitu, secara mingguan Brent masih mencatat kenaikan sebesar 13,5%.
Hal serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI). Harganya turun 70 sen atau 0,76% menjadi US$ 91,49 per barel. Namun, WTI juga masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan sebesar 10,9%.
Kenaikan harga minyak secara mingguan ini dipicu oleh kekhawatiran akan terganggunya jalur pelayaran. Ancaman utama adalah penutupan jalur Bab el-Mandeb. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Bab el-Mandeb merupakan jalur pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah berjanji akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan yang terjadi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran, pada Senin lalu, menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Sebelumnya, Arab Saudi sudah mengalihkan ekspor minyaknya melalui jaringan pipa. Langkah ini diambil untuk menghindari dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Iran disebut-sebut telah mendesak Houthi untuk menutup pintu masuk Laut Merah melalui Bab el-Mandeb. Desakan ini muncul jika Amerika Serikat terus menyerang infrastruktur energi Iran. Situasi ini terjadi setelah gencatan senjata sementara antara kedua negara runtuh dua pekan lalu.
"Jerat terhadap jalur pasokan energi global kembali semakin mengencang," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan riset.
Di sisi lain, Kementerian Energi Kazakhstan pada Kamis menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak di negara itu untuk sementara memangkas produksi. Hal ini terjadi setelah dugaan serangan drone Ukraina memaksa terminal ekspor utama mereka di Laut Hitam ditutup.
Sebelumnya pada Selasa, sejumlah sumber industri menyebut Caspian Pipeline Consortium menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan. Mereka menangguhkan kegiatan pemuatan setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker di terminal tersebut. Jalur pipa ini menangani sekitar 2% pasokan minyak mentah harian dunia.
Kementerian Energi Kazakhstan tidak merinci besaran penurunan produksi tersebut. Namun, seorang sumber mengatakan ladang minyak terbesar di negara itu memangkas produksinya hingga lebih dari separuh.
Secara keseluruhan, kondisi pasar minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor geopolitik. Ancaman blokade laut dan serangan terhadap infrastruktur energi menjadi pemicu utama fluktuasi harga. Ketidakpastian pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Laut Hitam membuat harga minyak rentan terhadap perubahan drastis dalam waktu singkat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SAF Pertamina dari Minyak Jelantah Kini Dipakai di Dua Bandara
BPH Migas Temukan Praktik Curang BBM Subsidi di Aceh
Proyek Gas Raksasa Rp 211 Triliun Mulai Dibangun
Konflik Global, Harga Minyak Tembus US$100 Per Barel
Menkeu: Tarif 10% AS Lebih Baik dari Usulan 19%
Garuda Indonesia Jadi Induk Maskapai BUMN
Berita Terbaru
Harga Minyak Melonjak, Lalu Anjlok
SAF Pertamina dari Minyak Jelantah Kini Dipakai di Dua Bandara
BPH Migas Temukan Praktik Curang BBM Subsidi di Aceh
Proyek Gas Raksasa Rp 211 Triliun Mulai Dibangun
Konflik Global, Harga Minyak Tembus US$100 Per Barel
81 BPR dan BPRS Merger, Ratusan Lainnya Masih Antre
Direktur RANS Mundur 12 Hari Setelah IPO