Harga Plastik Surabaya Naik 70%: Krisis Bahan Baku Pasar
Gambar atau konten salah?
BBM selamat dari kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah, namun plastik tidak. Harga bahan baku plastik di Surabaya terus merangkak naik sejak awal Maret hingga kini.
Pedagang plastik di wilayah Siwalankerto merasakan lonjakan harga secara bertahap sejak pekan kedua Maret. Mereka mengatakan kenaikan tersebut kini sudah tidak terkendali.
“Mulai naik itu Maret minggu kedua. Semua turunan plastik mbak (naik harganya), kisaran 30-70 persen,” jelas Citra kepada pembaca pada 01 April 2026. Ia menegaskan hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan signifikan, bahkan sampai 70%. Citra menduga penyebabnya adalah keterbatasan bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Biji plastik dan minyak, yang merupakan komponen utama, menyumbang sekitar 60‑80% dari bahan produksi.
Situasi global turut memengaruhi. Memanasnya konflik di Timur Tengah berdampak pada distribusi minyak dunia. Meski jalur Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup bagi negara yang tidak terlibat konflik, ketegangan di kawasan tetap memicu gangguan pasokan bahan baku plastik dan mendorong kenaikan harga.
Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh konsumen. Sebagai contoh, seorang pembeli membeli kantong plastik PE merek Tomat yang sebelumnya dibanderol seharga Rp10.000 per kemasan, kini naik menjadi Rp15.000 per kemasan.
Lebih mengejutkan, harga plastik saat ini dapat berubah lebih dari satu kali dalam sehari. Pada jenis tertentu yang menggunakan sistem indeks, harga mengikuti pergerakan pasar global secara langsung. Citra menjelaskan: “Tiap hari naik, kadang 2 kali, 3 kali kadang sekali. Cuma ada yang sampai pernah sehari itu 3 kali naik itu ada. Naik Rp2.000, Rp2.000, Rp4.000. Itu sing per kilo.” Ia menambahkan, “Paling tinggi kenaikan harga itu yang hitungannya pakai indeks. Ada beberapa plastik yang ngitungnya pakai indeks. Indeks yang berlaku hari itu apa ya wis (diikuti). Jadi setiap hari harus update.”
Nur, pedagang lain, mengaku stok plastik di pasaran sangat terbatas. Beberapa jenis sulit ditemukan, termasuk merek Tomat. Ia berkata, “Nggak ada barang. Di mana-mana kosong. Naiknya (harga) juga parah, bisa sampai 70%.” Nur menekankan bahwa plastik bening menjadi jenis yang paling terdampak dengan kenaikan harga tertinggi dibandingkan jenis lainnya. “Semua plastik warna bening itu naiknya memang paling tinggi, entah itu PP, HD, PE,” ujarnya.
Para pedagang mengakui pelanggan tetap membeli plastik, namun dalam jumlah yang lebih terbatas. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko kerugian akibat harga yang terus berubah.
Situasi ini menunjukkan bagaimana faktor global dan ketergantungan impor dapat memengaruhi harga barang kebutuhan sehari‑harian. Kenaikan harga plastik tidak hanya memengaruhi pedagang, tetapi juga konsumen akhir yang harus menyesuaikan pengeluaran mereka. Dengan stok yang menipis dan harga yang berfluktuasi, pasar plastik di Surabaya berada dalam kondisi yang menantang, memaksa semua pihak untuk lebih berhati‑hati dalam pengambilan keputusan pembelian.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
