Harimau Benggala Huru dan Hara Meninggal Akibat Virus FPV

Kartika D. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 43 dibaca
Bisik.id
Harimau Benggala Huru dan Hara Meninggal Akibat Virus FPV

Gambar atau konten salah?

Huru dan Hara, dua harimau Benggala berusia delapan bulan, dilaporkan meninggal di Kebun Binatang Bandung beberapa minggu lalu. Setelah penyelidikan, BBKSDA Jawa Barat mengungkapkan bahwa kedua satwa tersebut tewas akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).

Insiden ini bermula pada 22 Maret 2026 ketika tim medis eks kebun binatang melaporkan bahwa Hara menunjukkan penurunan aktivitas, muntah, dan diare. “Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya parasit cacing pada muntahan, sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin,” kata Ammy Nurwaty, Plt Kepala BBKSDA Jawa Barat. Laporan tersebut diterima pada hari Minggu, 29 Maret 2026.

Untuk mencegah penyebaran, Huru yang berada di kandang yang sama juga diberi vitamin dan obat cacing. “Sebagai langkah antisipasi, harimau Huru yang berada dalam satu kandang juga diberikan vitamin dan obat cacing, serta kedua satwa kemudian dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan,” tambah Ammy. BBKSDA Jawa Barat segera berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat.

“Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal, termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif,” ungkap Ammy. Upaya ini melibatkan terapi simptomatik dan suportif, serta pemantauan ketat terhadap kondisi kedua harimau.

Pada 23 Maret 2026, kondisi Hara semakin menurun. Gejala klinis berupa diare disertai darah muncul. Tim medis melakukan rapid test FPV pada sampel feses dan hasilnya positif. Penanganan intensif dilanjutkan, namun tidak berhasil.

“Namun demikian, pada tanggal 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB, harimau Hara dinyatakan mati. Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan masif pada saluran pencernaan, kerusakan vili‑vili usus yang merupakan ciri khas infeksi FPV, serta ditemukan parasit cacing pada usus,” terangnya.

Selanjutnya, pada 25 Maret 2026, Huru dipantau dan dirawat intensif. Tim medis eks kebun binatang, dokter hewan BBKSDA Jawa Barat, dokter hewan UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, serta dokter hewan dari Khal's Pet Care Bandung bekerja sama dalam penanganan.

“Kondisi Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan, namun pada tanggal 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB, harimau Huru dinyatakan mati. Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan, serta hasil uji test kit menunjukkan positif FPV,” jelasnya.

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi, dapat disimpulkan bahwa kedua anak harimau tersebut tewas akibat infeksi FPV. Ammy menyebut, FPV merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa famili Felidae baik domestik maupun liar, termasuk harimau.

“Virus ini menyerang sel‑sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite). Pada satwa muda yang sistem kekebalan belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi,” terangnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola eks kebun binatang akan meningkatkan langkah biosekuriti, melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif, memperketat pengawasan lalu lintas orang dan peralatan, serta meningkatkan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae,” pungkasnya.

Peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya kesehatan harimau muda di fasilitas perawatan. Infeksi FPV dapat menyebar dengan cepat, menuntut tindakan pencegahan yang ketat dan koordinasi lintas lembaga. Kewaspadaan terus diperlukan untuk melindungi satwa yang rentan ini.

Harimau BenggalaFeline Panleukopenia VirusBBKSDA Jawa BaratKebun Binatang BandungInfeksi VirusBiosekuritiPenularan

Komentar

Memuat komentar...