Hilirisasi Riset: 38 Proyek Lingkungan Dipresentasikan Jakarta Summit
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Pada 28 April 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membuka KIE Jakarta Summit. Acara ini menyoroti hilirisasi riset, yaitu proses mengubah temuan ilmiah menjadi produk atau layanan yang dapat dipasarkan. Sekitar 38 proyek riset lingkungan dan perubahan iklim, yang didukung inisiatif Australia‑Indonesia, KONEKSI, dipresentasikan untuk memperluas penerapannya.
Selama pertemuan, 12 riset dari enam kategori prioritas—pangan, energi, air, kesehatan, pendidikan, dan teknologi—ditampilkan. Sekitar 300 pejabat senior lintas kementerian, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat sipil hadir. Tujuannya adalah membuka dialog guna merumuskan rekomendasi berbasis bukti untuk isu-isu spesifik.
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, mengutarakan, "Kami ingin memastikan tidak ada kesenjangan, gap, jarak, antara apa yang ditemukan hasil peneltian ini dan prioritas pembangunan Pemerintah Indonesia." Ia menekankan pentingnya keterpaduan antara riset dan kebijakan pembangunan.
Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, menjelaskan bahwa kementerian telah bekerja sama dengan industri dan sektor lain, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk mendorong hilirisasi riset. Ia menegaskan bahwa program ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menekankan industrialisasi dan peningkatan nilai tambah dalam negeri.
Menurut Fauzan, kerja sama dengan industri terbagi menjadi tiga skema. Pertama, program Ajakan Industri. Di sini, pihak industri mengajukan masalah sementara kampus menyediakan solusi lewat proposal yang akan didanai oleh Kemdiktisaintek. Kedua, program Dorongan Teknologi. Skema ini menjembatani perguruan tinggi yang memiliki teknologi tertentu dengan industri yang membutuhkan. Ketiga, program Sinergi. Skema ini mendukung kolaborasi industri dan perguruan tinggi untuk didanai bersama.
Ia menambahkan, "Selama 2022 hingga 2025, sebanyak 3.653 kolaborasi telah didanai pemerintah bersama industri. Melibatkan 2.734 mitra, dengan investasi pendanaan sebesar Rp 3 triliun untuk kerja sama ini, dengan dana dari industri sebesar 53 persen dan dana pemerintah 47 persen," terangnya. Program-program ini diharapkan mendorong peningkatan investasi riset oleh pihak industri.
“Artinya kerja sama itu juga setelah berjalan, nanti industri akan melihat keuntungan kerja sama dengan kita, dan lebih banyak lagi nanti industri yang berinvestasi di riset,” ujarnya. Fauzan menekankan bahwa manfaat bagi industri akan terlihat seiring berjalannya waktu, sehingga lebih banyak investasi riset akan datang.
Informasi lebih lengkap tentang peluang kerja sama dapat diakses di https://hiliriset.kemdiktisaintek.go.id.
Hilirisasi riset ini menandai langkah konkret pemerintah Indonesia untuk menghubungkan penemuan ilmiah dengan kebutuhan industri. Dengan melibatkan lebih dari dua ribu mitra dan investasi sebesar Rp 3 triliun, kementerian berharap dapat mempercepat transformasi teknologi dan meningkatkan daya saing nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
