Hindari BPA Sebelum & Selama Kehamilan, Cegah Risiko

Lina F. · 2 min baca · 3 hari lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Hindari BPA Sebelum & Selama Kehamilan, Cegah Risiko

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Paparan zat pengganggu hormon disarankan dihindari sebelum dan selama kehamilan, khususnya pada fase awal atau ketika merencanakan kehamilan. Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG menjelaskan bahwa zat yang harus dihindari di periode tersebut adalah BPA atau Bisphenol A.

“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu (BPA)”, ujarnya dalam Podcast Raditya Dika bertajuk “Akibat Puber Terlalu Cepat” yang dikutip pada 09 Juni 2026.

Prof. Wiweko menegaskan bahwa ibu hamil yang terpapar BPA pada trimester pertama dapat menimbulkan risiko bagi janin. Ia menyebutkan gangguan seperti kista endometriosis, kista coklat, PCOS, hingga kanker sebagai contoh masalah yang perlu diwaspadai.

“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu (BPA)”, ia menegaskan kembali.

Ia menambahkan bahwa persiapan tidak cukup dimulai saat bayi lahir. “Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA, termasuk endocrine disrupting chemical (zat kimia pengganggu hormon) lainnya,” katanya.

Prof. Wiweko kemudian menjelaskan program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bernama Selamatkan Perempuan Indonesia. Menurutnya, kesehatan perempuan harus dibangun dari hulu sampai hilir.

“Selamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan,” ucapnya.

Untuk itu, pencegahan pubertas dini perlu dimulai sejak rencana kehamilan, termasuk dengan mengurangi paparan BPA dari galon dan kemasan plastik makanan‑minuman yang digunakan ulang. Ia menegaskan bahwa BPA dari galon tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi anak, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir. BPOM RI sendiri telah menetapkan batas migrasi maksimal 0,6 bagian per juta atau mg/kg dalam kemasan pangan.

Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pencegahan pubertas dini juga berhubungan dengan kesiapan menjadi orang tua. “Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum‑sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua,” ujarnya.

Ratih mengatakan orang tua perlu memahami kebutuhan dasar anak, bukan hanya sekolah. Ia menekankan pentingnya jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA.

Karena itu, pencegahan pubertas dini perlu ditempatkan sebagai upaya keluarga yang berkelanjutan, sejak rencana kehamilan, masa hamil, hingga pola asuh. Orang tua dapat memperhatikan sumber paparan dari kemasan makanan‑minuman, termasuk galon.

Kesimpulannya, menghindari paparan BPA sejak dini, mengikuti program Selamatkan Perempuan Indonesia, dan memperhatikan kebutuhan dasar anak dapat membantu mencegah risiko kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang.

BPApaparan hormonkehamilanrisiko kesehatanSelamatkan Perempuan Indonesiapubertas dinigalon plastik

Komentar

Memuat komentar...