Hipertensi Tanpa Gejala: Kasus Deborah Peringatkan Rakyat

Tika M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Hipertensi Tanpa Gejala: Kasus Deborah Peringatkan Rakyat

Gambar atau konten salah?

Hipertensi sering dianggap remeh karena tidak menimbulkan rasa sakit langsung. Banyak orang baru terdiagnosis mengabaikan kondisi ini karena tubuhnya masih terasa sehat. Salah satu contoh nyata adalah Deborah, seorang wanita asal Georgia berusia 69 tahun.

Deborah pertama kali terdeteksi hipertensi pada awal usia 30-an. Saat itu, ia tidak merasakan gejala apa pun, sehingga ia menurunkan peringatan dokter. “Awalnya saya sebenarnya tidak memiliki gejala atau kekhawatiran apa pun. Saat saya mengunjungi dokter untuk hal lain, dokter saya menunjukkan bahwa tekanan darah saya tinggi,” ungkapnya, dikutip dari laman People.

Ia menghabiskan bertahun-tahun sibuk membesarkan keluarga dan mengejar karier, sehingga kondisi kesehatannya terabaikan. Di lingkungan sekitarnya, hipertensi dianggap biasa pada orang tua dan tidak menimbulkan konsekuensi serius. “Saya tidak punya waktu untuk 'sakit,' dan saya tidak merasa sakit. Saya pikir saya adalah 'superwoman',” jelasnya.

Akibat mengabaikan pengobatan, Deborah mulai panik ketika tubuhnya mengalami kondisi darurat. Ia sempat menolak gejala ringan seperti pusing dan sesak napas. Hanya setelah putrinya memaksanya ke rumah sakit, tim medis menemukan tekanan darahnya sangat tinggi. “Ketika mereka berhasil, tekanan darah saya lebih dari 200 mmHg,” tutur Deborah.

Setahun kemudian, ia kembali mengalami sesak napas dan rasa tidak nyaman di dada. Ia menganggapnya akibat kawat branya, namun rekam jantung (EKG) menunjukkan ia berada di ambang serangan jantung. “Itulah bagian yang benar-benar menakutkan dari hipertensi, tidak ada tanda-tanda yang benar-benar mencolok. Dan, gejalanya bisa sangat samar, sampai akhirnya tidak lagi (samar),” tambahnya.

Deborah kini rutin mengonsumsi obat, namun tekanan darahnya tetap sulit dikendalikan karena keterlambatan penanganan. Efek jangka panjang mulai merusak organ vital. Dokter menyatakan ginjalnya mengalami kerusakan parah akibat tekanan darah tinggi yang konstan. “Akibat hipertensi yang tidak terkontrol, saya mengalami penyakit ginjal kronis yang juga harus saya kelola. Bahkan tanpa gejala yang besar, tekanan darah tinggi memengaruhi ginjal saya,” ungkapnya dengan penyesalan.

Setelah mengalami kerusakan ginjal, Deborah memutuskan untuk berbicara di depan publik. Ia mengingatkan orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Ia menyarankan setiap orang yang memiliki riwayat keluarga hipertensi untuk segera membeli alat pengukur tensi rumahan dan rutin melakukan skrining kesehatan. Tujuannya adalah melindungi organ tubuh dari kerusakan permanen.

Hipertensi, meski tidak menimbulkan rasa sakit, dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak diobati. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal, serangan jantung, dan masalah kardiovaskular lainnya. Pengukuran tekanan darah secara rutin dan pengobatan yang tepat menjadi kunci pencegahan.

Deborah kini menjadi contoh penting tentang betapa pentingnya kesadaran akan hipertensi. Ia menunjukkan bahwa gejala ringan atau tidak ada sama sekali tidak menjamin tubuh aman. Kesadaran, pengukuran rutin, dan pengobatan tepat dapat mencegah kerusakan organ yang tidak dapat diperbaiki.

Komentar

Memuat komentar...