Hotpot Kotoran Sapi: Kuliner Unik Guizhou yang Kontroversial
Gambar atau konten salah?
cow dung hotpot atau hot pot kotoran sapi menjadi topik hangat di kalangan pecinta kuliner. Hidangan ini berasal dari Provinsi Guizhou, pegunungan barat daya China, dan menggunakan bahan utama yang tak biasa: cairan pencernaan pertama di perut sapi.
Menurut laporan South China Morning Post (30 Maret 2026), cairan tersebut masih mengandung serat rumput yang belum tercerna. Selanjutnya, cairan itu dicampur dengan empedu sapi. Campuran ini dimasak bersama daging sapi, jeroan, bawang putih, jahe, daun bawang, dan cabai khas Guizhou. Proses memasak mirip hot pot biasa: semua bahan direbus hingga kuah berwarna hijau kecokelatan.
Meski terdengar ekstrem, banyak yang mencoba dan menyatakan aroma tidak seburuk yang dibayangkan. Seorang penulis kuliner, Lisa Cam, mengatakan: “Baunya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Justru lebih mirip sup herbal China yang ringan.” Ia juga menambahkan bahwa rasa kuahnya memiliki perpaduan gurih seperti kaldu daging sapi dengan sedikit rasa pahit yang mirip herbal.
Hidangan ini bukan sekadar makanan unik. Ia merupakan bagian tradisi kuliner etnis minoritas Miao dan Dong. Dalam tradisi mereka, sapi dianggap sumber penting nutrisi. Cairan dari perut sapi dipercaya mengandung klorofil dan enzim pencernaan dari rumput serta tanaman herbal yang dimakan sapi sebelumnya.
Menurut kepercayaan pengobatan tradisional China, kuah hot pot ini dipercaya mendinginkan tubuh dan membantu pencernaan, terutama setelah mengonsumsi makanan berat. Namun, tidak semua orang di Guizhou menyukai hidangan ini. Seorang chef asal Guizhou, Alex He, mengaku belum pernah mencobanya. Ia berkata: “Saya tidak bisa menerima bahan-bahannya. Bagi saya, rasa makanan khas Guizhou itu lebih ke asam dan pedas.”
Walaupun menu ini masih menimbulkan pro dan kontra, cow dung hotpot tetap menjadi salah satu kuliner unik yang digemari di China sampai sekarang. Hidangan ini menunjukkan bagaimana bahan yang tampak tidak biasa dapat menjadi bagian penting dari identitas budaya dan tradisi kuliner suatu daerah.
Kesimpulannya, cow dung hotpot menampilkan contoh bagaimana tradisi kuliner minoritas dapat mempertahankan dan merayakan bahan lokal yang unik. Meskipun kontroversial, hidangan ini tetap menarik bagi mereka yang ingin mengeksplorasi rasa dan sejarah kuliner yang berbeda.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
