HSBC: Rupiah Stabil di Kisaran Rp 18.000 Hingga Akhir Tahun

Mira T. · 3 min baca · 58 menit lalu · 18 dibaca
Bisik.id
HSBC: Rupiah Stabil di Kisaran Rp 18.000 Hingga Akhir Tahun

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bertahan di kisaran angka 18.000 hingga penutupan tahun ini. Bukan tanpa sebab, kondisi ini lebih banyak dipicu oleh menguatnya mata uang dolar secara global, yang sejalan dengan kebijakan bank sentral AS atau The Fed yang masih cenderung menaikkan suku bunga acuannya.

Fenomena penguatan dolar ini ternyata tidak hanya berdampak pada rupiah. Mata uang utama dunia lainnya seperti Yen Jepang, Dolar Selandia Baru, hingga Euro pun ikut merasakan tekanan yang sama. Hal ini diungkapkan langsung oleh Frederic Neumann, Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, dalam sebuah kesempatan media briefing di Jakarta Selatan, Selasa (29/09/2026).

"Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed saat ini sedang menaikkan suku bunga, sehingga dolar mendapatkan banyak dukungan. Kita melihat dolar menguat terhadap berbagai mata uang, misalnya mata uang Jepang, Selandia Baru, dan juga Euro," kata Frederic.

Menurutnya, dengan sisa waktu sekitar tiga bulan sebelum tahun berganti, posisi rupiah diperkirakan akan cenderung stabil. Mungkin saja ada sedikit pelemahan, namun pergerakannya tidak akan signifikan. Pelemahan yang terjadi pun lebih merupakan cerminan dari kekuatan dolar, bukan karena fundamental ekonomi rupiah yang sedang bermasalah.

"Mengingat waktu yang tersisa hanya tiga bulan hingga akhir tahun, kita melihat posisi rupiah cenderung stabil, mungkin sedikit melemah, namun tidak signifikan. Hal ini lebih mencerminkan kekuatan dolar daripada kelemahan fundamental rupiah," jelasnya lagi.

Ia memperkirakan pergerakan mata uang Garuda akan berada di rentang Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun. Angka ini, menurutnya, adalah target yang masuk akal dan sekali lagi menegaskan bahwa penguatan dolar AS secara keseluruhan lah yang menjadi pendorong utamanya.

"Jadi jika Anda menanyakan target kepada saya, sekitar 18.000 misalnya, akan menjadi target yang masuk akal. Itu lebih menunjukkan kekuatan dolar dibandingkan kelemahan rupiah," ujarnya.

Kendati demikian, situasi ini diprediksi tidak akan berlangsung lama. Memasuki awal tahun depan, atau tepatnya mulai 2027, arah pergerakan nilai tukar diprediksi akan berbalik. Ketika penguatan dolar AS mulai mereda, rupiah pun diramal akan kembali menguat.

"Tahun depan situasi itu bisa saja berbalik, karena pada titik tertentu nilai dolar akan melemah dan saat itulah rupiah akan mendapat dorongan positif. Pesan utamanya adalah bahwa pelemahan khusus pada rupiah yang kita alami di awal tahun sudah tidak ada lagi. Kondisi itu sudah teratasi," tambahnya.

Selain faktor eksternal, penguatan rupiah pada 2027 nanti juga didorong oleh kebijakan Bank Indonesia (BI). Langkah tegas dan agresif yang diambil BI dalam menaikkan suku bunga acuan pada awal tahun ini dinilai memberikan kepastian bagi para investor. Hal ini dianggap sebagai salah satu kunci dalam menstabilkan nilai tukar.

"Kita hampir mencapai akhir siklus pengetatan moneter di Indonesia. Kita telah melihat Bank Indonesia mengambil langkah yang sangat agresif pada awal tahun ini, sehingga mereka telah melakukan sebagian besar upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan hal tersebut sangat berperan dalam meyakinkan para investor mengenai stabilitas mata uang," ungkapnya.

Ke depannya, Frederic memperkirakan BI hanya akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi menjelang akhir tahun. Setelah itu, siklus pengetatan moneter akan dihentikan. Dengan demikian, pergerakan nilai tukar rupiah ke depan diprediksi akan sangat terbatas dan berada dalam kisaran yang sempit.

"Anda sudah melihat adanya stabilitas pada nilai tukar rupiah dan kembalinya arus masuk modal. Jadi kami memperkirakan bahwa pada tahun depan, pergerakan nilai tukar rupiah akan berada dalam kisaran yang relatif sempit," pungkas Frederic.

Melihat proyeksi ini, stabilitas nilai tukar rupiah hingga tahun depan sebenarnya sudah mulai terlihat. Kombinasi antara kebijakan moneter BI yang pro-stabilitas dan meredanya tekanan dolar secara global menjadi modal utama. Meski begitu, tetap ada catatan, yaitu ketergantungan rupiah pada kondisi eksternal masih cukup besar, sehingga perubahan kebijakan The Fed yang tak terduga bisa saja mengubah arah pergerakan ini.

rupiahdolar ASnilai tukarThe FedBank Indonesiasuku bunga

Komentar

Memuat komentar...