IHSG Menguat di Tengah Tekanan Pasar Asia
Gambar atau konten salah?
Pada perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat 17 Juli, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan. Data dari RTI Business menunjukkan IHSG naik 0,55 persen ke posisi 6.141,97. Menjelang akhir sesi I, indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.153,97.
Sepanjang paruh pertama perdagangan, volume saham yang diperdagangkan mencapai 15,75 miliar lembar. Nilai transaksinya tercatat sebesar Rp 7,23 triliun. Frekuensi perdagangan saham hingga penutupan sesi I mencapai 1.157.012 kali.
Indeks LQ45, yang menjadi papan perdagangan utama, juga ikut menguat. Kenaikannya mencapai 1,62 persen ke level 618.409 pada paruh pertama. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 320 saham menguat, 275 saham melemah, dan 192 saham bergerak stagnan.
Penguatan IHSG hari ini ditopang oleh saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kompak bergerak naik. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) misalnya, menguat 3,25 persen ke harga Rp 4.450 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga naik 3,15 persen ke Rp 2.950 per saham.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) ikut menguat 2,57 persen ke level Rp 3.590 per saham. Sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat kenaikan 4,74 persen ke harga Rp 2.650 per saham.
Yang menarik, IHSG menjadi satu-satunya indeks saham di kawasan Asia-Pasifik yang menguat pada hari ini. Bursa saham lainnya justru mengalami tekanan. Nikkei 225 Index (N225) Jepang misalnya, melemah hingga 5,43 persen ke level 63.205,10.
Hang Seng Index (HSI) Hong Kong juga turun 1,98 persen ke posisi 24.514,28. Shanghai Composite Index (SSEC) Tiongkok melemah 1,64 persen ke level 3.818,59. Bahkan Straits Times Index (STI) Singapura, negara tetangga Indonesia, tercatat melemah 0,60 persen ke 5.505,91 pada siang hari ini.
Pelemahan mayoritas bursa Asia-Pasifik ini dipicu oleh jatuhnya saham-saham teknologi. Saham teknologi Asia dan semikonduktor di Amerika Serikat kompak melemah tajam. Hal ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran tentang adopsi kecerdasan buatan atau AI.
Saham SoftBank pada perdagangan pagi tadi tercatat turun 9,2 persen. Produsen peralatan chip Tokyo Electron melemah hingga 9 persen. Saham Advantest juga merosot 9,4 persen di Wall Street.
Produsen chip memori Jepang, Kioxia, bahkan melemah lebih dari 14 persen. Pelemahan ini terjadi setelah dewan federal Texas meminta perusahaan tersebut membayar ganti rugi sebesar US$ 229 juta karena melanggar hak paten Viasat terkait teknologi memori komputer.
Saham TSMC di Taiwan juga ikut tertekan. Pada awal perdagangan hari ini, saham perusahaan semikonduktor itu melemah 3,64 persen. Saham teknologi Tiongkok juga tidak luput dari tekanan. Tencent melemah 1,3 persen di bursa Hong Kong.
Saham Meituan turun 2,4 persen dan Kuaishou mengalami penurunan sebesar 3,3 persen. Sementara Baidu dan Alibaba masing-masing melemah 0,7 persen dan 1,3 persen.
Di tengah tekanan global yang melanda sektor teknologi, IHSG justru mampu bertahan dan mencatatkan penguatan. Saham-saham perbankan BUMN menjadi motor utama penggerak indeks. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah gejolak bursa regional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pos Indonesia Bantah Gagal Bayar Sukuk Rp24 Miliar
IHSG Ditutup Hijau, Tren Enam Bulan Masih Minus 28%
BI Nilai Likuiditas Perbankan Masih Kuat Topang Intermediasi
BPK Temukan Piutang Rp33 Triliun Tak Ditagih di Bea Cukai
Puluhan Ribu PMI Dipulangkan, 626 Meninggal
Commuterline Bandara Wajib Duduk Nomor Kursi Mulai September
