Ikan Sapu‑Sapu Berpotensi Berbahaya bagi Kesehatan

Ika P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Ikan Sapu‑Sapu Berpotensi Berbahaya bagi Kesehatan

Gambar atau konten salah?

Ikan sapu‑sapu kembali menjadi topik hangat setelah lima pria diamankan saat menangkap ikan tersebut di bantaran anak Kali Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dagingnya akan diolah menjadi siomai, menambah ketertarikan masyarakat.

Secara teknis, ikan sapu‑sapu memang dapat dimakan. Namun perhatian utama terletak pada habitatnya. Ikan ini hidup dan mencari makan di dasar perairan, tempat lumpur, sampah, dan limbah sering mengendap. Jika ditangkap dari sungai perkotaan seperti Kali Ciliwung, risiko cemaran lebih tinggi karena lingkungan yang terkontaminasi.

Risiko pertama adalah bakteri dan parasit. Ikan sapu‑sapu yang hidup di dasar perairan dan mencari makan di lumpur mudah terpapar kontaminasi. Hasil uji yang dibagikan oleh akun TikTok ariefkamarudin menunjukkan sampel ikan sapu‑sapu mengandung bakteri E. coli hingga 100 kali lipat lebih tinggi dari batas Standar Nasional Indonesia. E. coli sering menjadi penanda adanya kontaminasi fekal atau sanitasi lingkungan yang buruk. Jika makanan mengandung E. coli tinggi dan masuk ke tubuh, dampaknya paling sering berupa diare, mual, muntah, kram perut, dan demam. Pada anak-anak, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh lemah, infeksi dapat menjadi lebih berat karena memicu dehidrasi dan gangguan pencernaan yang serius.

Risiko kedua adalah kandungan logam berat. Studi dalam Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi tahun 2019 menunjukkan daging ikan sapu‑sapu dari Sungai Ciliwung wilayah Jakarta mengandung berbagai logam berat seperti arsenik, kadmium, kromium, merkuri, timbal, dan seng. Logam berat dapat masuk ke sungai dari limbah industri, sampah, emisi kendaraan, hingga aktivitas rumah tangga. Karena ikan sapu‑sapu hidup dekat sedimen dasar, paparan zat tersebut berpotensi lebih tinggi dibanding ikan yang hidup di kolom air atas. Paparan logam berat sering tidak langsung menimbulkan gejala setelah satu kali makan. Namun konsumsi berulang dari sumber tercemar dapat membuat zat tertentu menumpuk perlahan di tubuh. Dalam berbagai literatur kesehatan, timbal dikaitkan dengan gangguan saraf dan tekanan darah, sedangkan kadmium berhubungan dengan fungsi ginjal.

Risiko ketiga adalah keracunan makanan karena pengolahan tidak higienis. Ikan dari sungai tercemar membutuhkan proses pembersihan ekstra ketat. Jika isi perut, lendir, atau bagian tubuh yang terkontaminasi tidak dibersihkan sempurna, kuman masih bisa tertinggal saat diolah menjadi makanan. Saat dijadikan produk seperti siomai, bakso ikan, atau olahan giling lain, kontaminasi bisa menyebar ke seluruh adonan. Jika pemanasan tidak merata, risiko keracunan makanan menjadi lebih tinggi.

Risiko keempat adalah memicu gangguan pencernaan berulang. Tubuh biasanya paling cepat memberi sinyal lewat saluran cerna. Konsumsi pangan yang kualitasnya buruk dapat memicu perut mulas, kembung, mual, muntah, atau diare dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Jika kejadian ini berulang, tubuh bisa kehilangan cairan dan elektrolit. Pada anak-anak dan orang yang imunnya sedang lemah, kondisi seperti ini lebih cepat menurunkan stamina dan meningkatkan risiko dehidrasi.

Secara keseluruhan, ikan sapu‑sapu yang berasal dari sungai perkotaan membawa risiko kesehatan yang cukup serius. Bakteri, parasit, logam berat, serta potensi keracunan makanan akibat pengolahan tidak higienis menambah beban bagi tubuh. Masyarakat yang memilih untuk mengonsumsi ikan ini harus mempertimbangkan sumber dan metode pengolahan yang aman, serta memperhatikan kondisi kesehatan pribadi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Dengan kesadaran dan langkah pencegahan yang tepat, risiko kesehatan dapat diminimalkan, namun tetap penting untuk berhati-hati dalam memilih makanan laut dari perairan yang terkontaminasi.

Ikan sapu‑sapuKali Ciliwungbakteri E. colilogam beratkeracunan makananrisiko kesehatanpencegahan

Komentar

Memuat komentar...