Ahli Bantah Klaim 'Carb Face' Bikin Jelek

Endah K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Ahli Bantah Klaim 'Carb Face' Bikin Jelek

Gambar atau konten salah?

Di media sosial China, istilah "carb face" atau wajah karbohidrat sedang ramai diperbincangkan. Tren ini dimulai ketika sejumlah kreator konten mengklaim bahwa terlalu sering makan makanan berkarbohidrat—seperti nasi, mi, atau roti kukus—bisa membuat wajah tampak lebih bengkak, kulit kusam, muncul jerawat, dan garis rahang menjadi kurang tegas.

Bahkan, beberapa pengguna media sosial membagikan foto sebelum dan sesudah mereka mengurangi konsumsi karbohidrat. Mereka mengaku bahwa bentuk wajah mereka menjadi lebih tirus dan tegas setelah menjalani pola makan rendah karbohidrat. Akibatnya, makanan pokok seperti nasi, mi, dan roti kukus mulai dikaitkan dengan penampilan yang dianggap kurang menarik. Bahkan, ada yang menilainya sebagai tanda kurang disiplin dalam menjaga pola makan.

Lantas, benarkah makan karbohidrat bisa memengaruhi penampilan dan kesehatan?

Menurut laporan dari The Global Times, istilah "carb face" merujuk pada anggapan bahwa konsumsi karbohidrat bisa menyebabkan berbagai perubahan pada wajah, seperti wajah sembap, kulit kendur atau kusam, muncul jerawat, hingga garis rahang yang tampak kurang tegas. Namun, para ahli membantah klaim ini.

Cui Yongqiang, profesor kedokteran integratif dari Beijing Guang'anmen Hospital, mengatakan tidak ada alasan untuk langsung mengaitkan konsumsi makanan bertepung dengan perubahan penampilan seseorang. Faktanya, makanan berkarbohidrat merupakan bagian utama dari pola makan sehari-hari masyarakat. Karbohidrat menjadi sumber energi sekaligus menyediakan berbagai nutrisi penting bagi tubuh.

Zhu Yi, profesor madya di China Agricultural University, juga menegaskan bahwa anggapan karbohidrat membuat seseorang menjadi kurang menarik atau tidak sehat tidak didukung oleh bukti ilmiah. Ia menjelaskan, pola makan seimbang harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai. Tidak ada makanan yang secara alami membuat seseorang menjadi "jelek". Yang justru berbahaya adalah pola makan yang tidak seimbang dan kecemasan akibat tren di media sosial.

Diet rendah karbohidrat berlebihan bisa berdampak buruk

Para ahli juga mengingatkan bahwa tren "carb face" berpotensi membahayakan kesehatan fisik maupun mental. Jika seseorang menghindari karbohidrat dalam jangka panjang demi menurunkan berat badan atau terlihat lebih muda, ia berisiko mengalami kelelahan, mudah marah, suasana hati yang buruk, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.

Kurangnya asupan karbohidrat dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi sehingga mengganggu fungsi organ dan otak. Karena itu, membatasi karbohidrat secara ketat dalam waktu lama bukanlah cara yang aman maupun berkelanjutan untuk menjaga penampilan ataupun kesehatan.

Jangan jadikan karbohidrat musuh

Di sisi lain, para ahli menilai mengaitkan semangkuk nasi atau roti kukus dengan standar kecantikan hanya akan memicu kecemasan di masyarakat. Mereka menekankan bahwa kecantikan tidak memiliki satu standar yang berlaku untuk semua orang. Kesehatan, rasa percaya diri, sikap positif, dan keunikan setiap individu juga merupakan bagian dari kecantikan.

Dengan menerima diri sendiri dan menghargai perbedaan setiap orang, seseorang dapat terhindar dari kecemasan yang tidak perlu akibat tekanan tren di media sosial.

Pilih karbohidrat yang lebih sehat

Meski demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa pola makan sehat bukan berarti menghilangkan karbohidrat sepenuhnya. Mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat olahan, seperti nasi putih dan tepung terigu dalam jumlah berlebihan, memang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi biji-bijian utuh (whole grains) seperti oat dan quinoa, kacang-kacangan, serta umbi-umbian seperti ubi jalar dan talas. Mengombinasikan berbagai sumber karbohidrat tersebut dapat meningkatkan asupan serat sekaligus membantu memperlambat kenaikan kadar gula darah.

Selain itu, menjaga pola makan seimbang, tidur yang cukup, rutin berolahraga, dan memiliki pola pikir yang positif tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan.

Fenomena "carb face" di China ini sebenarnya bukanlah hal baru. Tren diet dan kecantikan yang viral di media sosial sering kali tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Yang menarik, tren ini justru muncul di tengah masyarakat yang secara tradisional menjadikan nasi dan mi sebagai makanan pokok sehari-hari. Para ahli menekankan bahwa karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama. Yang perlu diperhatikan bukanlah menghilangkan karbohidrat, melainkan memilih jenis karbohidrat yang lebih sehat dan mengonsumsinya dalam jumlah yang wajar.

carb facewajah karbohidratkarbohidratmedia sosialpola makandiet rendah karbohidratkesehatanpenampilan

Komentar

Memuat komentar...