Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel untuk Cadangan Energi
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, memberikan penjelasan terkait rencana impor minyak dari Rusia. Menurutnya, minyak yang akan didatangkan tersebut tidak akan langsung diproses menjadi bahan bakar minyak atau BBM. Sebaliknya, minyak itu akan disimpan sebagai cadangan penyangga energi nasional.
Indonesia berencana mengimpor minyak dari Rusia sebanyak 150 juta barel. Angka ini merupakan hasil dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin beberapa waktu lalu. Yuliot menyampaikan bahwa nantinya impor minyak ini akan dikelola oleh Lemigas.
"Itu (Impor Minyak Rusia) menjadi cadangan penyangga energi nasional," kata Yuliot saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, pada 16 Juli 2026.
Saat ditanya mengenai kabar yang beredar tentang sudah masuknya minyak asal Rusia di Pelabuhan Balikpapan, Yuliot belum bisa memastikan kebenarannya. Ia mengatakan akan memeriksa terlebih dahulu asal-usul dan volume minyak tersebut.
"Untuk itu pengadaan minyak itu kan ada Indonesia blend. Indonesia blend itu kan jadi minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi, supplier yang ada itu ya kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara blending," jelas Yuliot.
"Jadi, saya rasa itu dari mana asal ini ya, apakah itu ada ya dari Rusia, berapa jumlahnya kami cek dulu ya," tambahnya.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak terburu-buru mengolah minyak impor menjadi BBM. Minyak dari Rusia akan difungsikan sebagai cadangan, bukan untuk konsumsi langsung. Ini berarti proses penggunaannya mungkin baru akan dilakukan jika ada kebutuhan mendesak atau kondisi tertentu. Langkah ini juga bisa dilihat sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel untuk Cadangan Energi
Petugas Kempeskan Ban Truk Antre BBM di Manado
Danantara Tunggu Arahan Soal Dana PFII
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
S&P Nilai Danantara Dorong Daya Saing BUMN
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
