Indonesia Cerah di Tengah Krisis Global
Gambar atau konten salah?
Pemerintah masih melihat ada sisi cerah dalam perekonomian Indonesia. Meskipun dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik geopolitik di Timur Tengah masih memanas, harga pangan dan energi melonjak, dan suku bunga global berada di level tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2027. Acara itu digelar di Gedung Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, pada hari Jumat, 14 Agustus 2026.
"Ada prospek positif untuk pertumbuhan perekonomian di dalam negeri, di tengah gejolak utama, seperti geopolitik, harga energi, harga pangan, serta suku bunga tinggi yang masih terus berlanjut," ujar Airlangga.
Optimisme ini tidak tanpa alasan. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan angka yang menggembirakan. Salah satunya adalah konsumsi rumah tangga. Survei terbaru mencatat Indeks Keyakinan Konsumen masih di level ekspansif, yaitu 116,8 poin. Angka ini menunjukkan masyarakat masih percaya diri untuk berbelanja.
Di sisi industri, kinerjanya juga membaik. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di angka 50,2 poin. Angka di atas 50 berarti sektor manufaktur tengah berekspansi. Bukti lain datang dari sektor riil: penjualan otomotif tercatat naik 33,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menariknya, lonjakan penjualan tidak hanya terjadi pada mobil konvensional. "Khusus untuk kendaraan elektrik atau kendaraan hybrid itu naiknya lebih 40%," kata Airlangga. Artinya, minat terhadap kendaraan ramah lingkungan juga meningkat pesat.
Data lain yang tak kalah penting adalah konsumsi listrik. Konsumsi listrik nasional naik 10,8%. Bagi pemerintah, ini adalah indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi benar-benar berjalan. "Kenaikan ekonomi juga bisa kita lihat dari kegiatan yang mengkonsumsi listrik itu juga naik 10,8%," jelasnya.
Diikuti juga oleh penjualan semen yang tumbuh 13,5% secara tahunan. Angka ini mencerminkan aktivitas konstruksi dan pembangunan infrastruktur yang masih bergairah.
Terakhir, dari sisi perbankan, penyaluran kredit tumbuh 12,67% secara tahunan. Lebih spesifik lagi, kredit investasi melesat naik hingga 24,9%. Airlangga menambahkan bahwa distribusi modal ini menunjukkan dunia usaha sedang berekspansi dan percaya diri.
Semua data ini, dari konsumsi listrik hingga penjualan semen, dari kredit investasi hingga mobil hybrid, menggambarkan satu hal: meskipun tekanan global masih ada, denyut ekonomi di dalam negeri tetap terasa hangat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait