Indonesia Hilang ACC 2025/26, I.League Siap Piala Indonesia

Eko P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 114 dibaca
Bisik.id
Indonesia Hilang ACC 2025/26, I.League Siap Piala Indonesia

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Klub juara dan runner‑up Super League 2025/26 akan menghadapi musim depan yang penuh tantangan. Dua klub berkesempatan tampil di empat kompetisi sekaligus, termasuk perwakilan Indonesia di ASEAN Club Championship (ACC), Piala Indonesia, dan Super League.

ACC masih mempertahankan aturan lama: hanya juara dan runner‑up kompetisi domestik di kawasan Asia Tenggara yang dapat berpartisipasi. Pada edisi 2024/25, PT Liga Indonesia Baru (LIB) – yang kini dikenal sebagai I.League – memutuskan mengirimkan tim peringkat ke‑3 dan ke‑4, yaitu Malut United dan Persebaya Surabaya, ke ACC.

LIB menyatakan bahwa Persib Bandung sebagai juara dan Dewa United sebagai runner‑up akan tampil di ACC. Namun, klub-klub tersebut lebih memilih fokus pada AFC Champions League (ACL) 2 dan AFC Challenge League (ACGL). Akibatnya, AFF menolak pengajuan LIB yang ingin mengirim Malut dan Persebaya, sehingga Indonesia tidak ikut dalam edisi perdana ACC.

Menurut I.League, aturan AFF masih akan tetap tidak berubah. I.League menegaskan bahwa perwakilan negara di ACC haruslah tim juara dan runner‑up kompetisi domestik.

Di sisi lain, I.League mengungkap kemungkinan menggelar Piala Indonesia lagi selain Super League. Jika terlaksana, juara dan runner‑up akan menjalani periode sibuk musim depan. “Kemarin dalam pertemuan dengan klub disampaikan, bahwa memang agak berat nih musim depan. Juaranya ada potensi, sekali lagi, kalau tak terhindarkan juga harus bermain di banyak kompetisi,” kata Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra kepada wartawan.

“Salah satunya adalah, ASEAN (ACC). Tapi dalam konteks kami juga sudah menyampaikan kepada anggota, klub owner, musim depan itu menjadi musim yang sangat panjang,” ujarnya menambahkan. “Belum lagi kan, ada aspirasi soal apa? Turnamen liga (Piala Indonesia) dan lain‑lain, kan. Jadi, memang itu bagaimana kami memastikan menyusun jadwal ini, bisa lebih baik,” katanya lagi.

Asep menjelaskan bahwa klub Indonesia belum mendapat kesempatan tampil di ACL Elite. Rendahnya ranking kompetisi Indonesia membuat juara dan runner‑up masih akan bertanding di ACL 2 dan ACGL, yang merupakan kompetisi level 2 dan 3 Asia. Saat ini, Super League masih menempati peringkat ke‑18 dan ke‑9 (Zona Timur). Sedangkan peserta ACL Elite – kompetisi klub level 1 Asia – hanya bisa diikuti klub dari kompetisi domestik dengan peringkat 1 hingga 7 dari tiap zona (Barat dan Timur). Sehingga Indonesia masih harus sabar menunggu wakil negara tampil di ACL Elite.

Tim juara Super League akan melakoni playoff di ACL 2, sedangkan runner‑up otomatis langsung bermain di fase grup ACGL. “Status (liga) kita musim depan tidak berubah, ya. Masih playoff‑nya ACL 2 dan juga AFC Challenge. Yang ASEAN (ACC), kalau berkaca kepada regulasi, entry regulation‑nya dari kompetisi memang menyebutkan juara dan juga, next best place‑nya. Jadi, tim peringkat 1, 2, 3 dan lain‑lain,” ucap Asep (mro/cas).

Dengan semua kompetisi yang menanti, musim depan akan menjadi periode yang sangat panjang bagi klub juara dan runner‑up. Mereka harus menyeimbangkan jadwal antara liga domestik, kompetisi regional, dan turnamen Asia. Persiapan yang matang dan manajemen waktu yang baik menjadi kunci agar tidak terjebak dalam kebuntuan jadwal. I.League dan klub-klub terkait kini harus menyiapkan strategi agar dapat bersaing di semua arena tanpa mengorbankan performa di liga utama. Persib Bandung dan Dewa United akan menjadi contoh bagaimana klub dapat menavigasi kompleksitas kompetisi internasional sambil tetap fokus pada tujuan domestik. (mro/cas)

I.LeagueASEAN Club ChampionshipACL 2ACGLSuper LeaguePersib BandungDewa United

Komentar

Memuat komentar...