Indonesia Resmi Luncurkan B50, Impor Solar Berhenti

Andi B. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Indonesia Resmi Luncurkan B50, Impor Solar Berhenti

Gambar atau konten salah?

Pemerintah secara resmi meluncurkan program biosolar B50. Langkah ini disebut-sebut mampu menghentikan impor solar. Namun, ada satu bahan baku yang masih harus didatangkan dari luar negeri.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel 50 persen ke dalam bahan bakar solar. "Dengan diluncurkan program ini Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50," ujar Prabowo saat peluncuran biosolar B50 di Rest Area Km 57, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis, 8 Juli 2026.

Program B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. Kebijakan ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah. Tujuannya untuk menekan impor BBM, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, serta memperkuat ketahanan energi dan ekonomi.

Pelaksanaan program ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. Juga Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 yang mengatur kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam minyak solar.

Selama masa transisi, badan usaha penyedia BBM diberi waktu hingga 30 September 2026. Mereka harus menghabiskan stok biodiesel dengan spesifikasi B40 sebelum beralih sepenuhnya ke B50.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadia, mengatakan Indonesia tidak akan mengimpor solar lagi dengan penerapan B50. "Kami laporkan Bapak Presiden bahwa untuk solar total konsumsi kita, Bapak, itu rata-rata di angka 38 juta sampai dengan 40 juta liter solar per tahun. Awalnya kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter per tahun," ujar Bahlil. "Dengan implementasi B50 maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita," jelasnya.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Prof Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa biodiesel didapatkan dari crude palm oil. Namun dalam prosesnya, masih dibutuhkan bahan baku yang masih impor. "Biodiesel didapatkan dari tandan buah segar, ini menjadi crude palm oil dulu, 16 juta ini," kata Eniya. "Lalu dibersihkan sedikit namanya bleaching, terus ditambah metanol. Nah, metanol ini yang dibutuhkan 2,5 juta, tahun depan dibutuhkan 2,5 juta, tapi produksi domestik baru sekitar 600 ribuan. Jadi kita masih perlu impor," tambahnya.

Program B50 memang menjadi langkah besar dalam mengurangi ketergantungan pada solar impor. Namun, ketergantungan pada metanol impor masih menjadi tantangan yang harus diatasi. Produksi metanol dalam negeri yang baru mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 2,5 juta ton, menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

B50biosolarbiodieselimpor solarmetanolPrabowo Subiantoketahanan energi

Komentar

Memuat komentar...