Indosat: Resiliensi Siber Kunci Transformasi Indonesia

Bambang W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Indosat: Resiliensi Siber Kunci Transformasi Indonesia

Gambar atau konten salah?

Transformasi digital di Indonesia semakin meluas, namun pertumbuhan ini juga menambah risiko keamanan siber bagi banyak perusahaan. Indosat Business, bagian dari Indosat Ooredoo Hutchison, menyoroti bahwa ancaman siber kini lebih kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menarget sektor strategis nasional.

Menurut whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, banyak perusahaan masih menghadapi resilience gap. Gap ini terjadi ketika laju digitalisasi jauh lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun ketahanan siber. Whitepaper ini disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim.

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis di era ekonomi digital. Ia berkata, “Cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, Senin (11 Mei 2026).

Buldansyah menambahkan bahwa kebutuhan enterprise tidak lagi sekadar konektivitas dan teknologi, melainkan juga kemampuan membangun sistem keamanan siber yang adaptif dan terintegrasi menghadapi ancaman modern. Ia menekankan pentingnya beralih dari pendekatan reaktif ke cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Charles Lim menyatakan bahwa ancaman siber berkembang lebih cepat dan semakin sulit dideteksi seiring munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake. Ia menegaskan, “Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” menambahkan.

Whitepaper tersebut mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550% di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas. Ancaman ransomware juga terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik.

Data tambahan menunjukkan bahwa Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 mengungkapkan hanya 11% organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Rata‑rata kerugian akibat kebocoran data diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Indosat Business menyoroti implementasi Undang‑Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), yang mendorong perusahaan memperkuat sistem monitoring dan respons keamanan siber secara real‑time. UU PDP juga menegaskan kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Whitepaper ini juga membahas strategi penguatan keamanan siber, termasuk Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Tantangan cyber resilience di berbagai sektor strategis, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan, juga diuraikan secara rinci.

Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang di tengah perkembangan AI dan ekonomi digital.

Dengan data dan rekomendasi yang disajikan, perusahaan di Indonesia diharapkan dapat menilai kesiapan mereka dan mengambil langkah konkret untuk memperkuat sistem keamanan siber. Keberhasilan dalam mengatasi ancaman ini akan menentukan seberapa baik organisasi dapat bertahan dan berkembang di era digital yang terus berubah.

Transformasi digitalKeamanan siberResiliensi siberAI fraudDeepfakeRansomwareIndosat Ooredoo HutchisonUU PDP

Komentar

Memuat komentar...