Iran Hancurkan 'Senjata Cuaca' AS-Israel, Hujan Datang

Nurul H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 138 dibaca
Bisik.id
Iran Hancurkan 'Senjata Cuaca' AS-Israel, Hujan Datang

Gambar atau konten salah?

Di media sosial, muncul klaim yang menakjubkan: Iran dikatakan berhasil mengakhiri kekeringan setelah menghancurkan “senjata cuaca” milik Amerika Serikat dan Israel. Cerita ini menyebar cepat di platform X dan TikTok, memicu perdebatan tentang apakah perubahan cuaca ekstrem di Iran benar hasil intervensi militer atau sekadar fenomena alam.

Menurut narasi yang beredar, hujan deras, salju, dan penurunan suhu tiba‑tiba terjadi di Iran dan sebagian wilayah Irak setelah fasilitas rahasia modifikasi cuaca dihancurkan. Namun, adakah “senjata cuaca” yang bisa dikendalikan manusia? Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

IndiaTimes melaporkan bahwa Iran menyerang pusat cloud seeding (pembenihan awan) rahasia di Uni Emirat Arab atau sistem radar militer di Qatar. Serangan ini diklaim “memutus jaringan manipulasi cuaca” yang selama ini disebut‑sebut menyebabkan kekeringan. Setelah itu, suhu di Teheran disebut turun hingga 5 derajat Celsius, hujan serta salju kembali turun, dan beberapa wilayah mengalami banjir setelah sebelumnya dilanda kekeringan panjang.

Teori ini cepat viral karena bertepatan dengan laporan nyata tentang perubahan cuaca ekstrem di kawasan tersebut. Namun, hingga kini, klaim tersebut tidak pernah dibuktikan secara ilmiah maupun dikonfirmasi oleh otoritas resmi.

Para ilmuwan yang dikutip DW menyatakan bahwa klaim tersebut keliru karena salah memahami teknologi cloud seeding. Teknologi ini memang ada, tetapi fungsinya sangat terbatas. Cloud seeding bekerja dengan menyemai partikel seperti garam atau perak iodida ke awan yang sudah terbentuk, untuk mendorong hujan turun. Namun, teknologi ini tidak bisa menciptakan awan dari nol.

“Tidak mungkin langit cerah tiba‑tiba disemai lalu langsung hujan. Awan harus sudah ada dan siap turun hujan,” kata profesor fisika atmosfer Edward Gryspeerdt. Selain itu, dampaknya pun sangat kecil dan berskala lokal. Secara ilmiah, cloud seeding hanya mampu meningkatkan curah hujan sekitar 5‑20% dalam kondisi tertentu, bukan mengubah pola cuaca antarnegara.

Peneliti lain menyebut klaim ini sebagai “ketidaksesuaian skala besar”, karena perubahan cuaca regional seperti di Iran jauh melampaui kemampuan teknologi tersebut. Para ahli meteorologi turut menegaskan, tidak ada teknologi saat ini yang mampu mengendalikan cuaca dalam skala regional seperti yang diklaim. Narasi “senjata cuaca” dinilai sebagai teori konspirasi tanpa dasar ilmiah.

Laporan media internasional menyebut perubahan cuaca di Iran memang terjadi, tetapi disebabkan oleh faktor alam seperti pola iklim global dan variabilitas atmosfer, bukan intervensi militer.

Di tengah situasi tersebut, teori konspirasi seperti “senjata cuaca” mudah dipercaya karena memberikan penjelasan sederhana atas masalah kompleks. Ditambah lagi, konteks geopolitik antara Iran, AS, dan Israel membuat narasi ini semakin cepat menyebar.

Iran memang menghadapi krisis air serius dalam beberapa tahun terakhir. Kekeringan berkepanjangan, perubahan iklim, dan pengelolaan air yang buruk memperparah kondisi tersebut. Beberapa wilayah sempat mendekati kondisi krisis air ekstrem atau “Day Zero”, di mana pasokan air bersih hampir habis. Dalam situasi ini, klaim “senjata cuaca” menjadi narasi yang menarik bagi sebagian orang.

Namun, sains menunjukkan bahwa cuaca dipengaruhi oleh faktor alam yang kompleks. Tidak ada bukti bahwa penghancuran “senjata cuaca” AS‑Israel menyebabkan hujan di Iran. Perubahan cuaca di Iran memang nyata, tetapi disebabkan oleh faktor alam, bukan intervensi militer.

Secara keseluruhan, klaim viral ini tidak memiliki dasar ilmiah. Teknologi cloud seeding memang ada, namun fungsinya terbatas dan tidak dapat mengubah pola cuaca regional. Perubahan cuaca di Iran lebih dipengaruhi oleh kondisi iklim global dan variabilitas atmosfer, bukan oleh “senjata cuaca” yang diklaim.

Iransenjata cuacacloud seedingkekeringankonspirasiperubahan iklimgeopolitik

Komentar

Memuat komentar...