Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok

Yuli S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok

Gambar atau konten salah?

Situasi di jalur perairan Selat Hormuz semakin tegang. Dalam sepekan terakhir, Iran disebut telah berulang kali melancarkan serangan terhadap kapal tanker yang melintas. Akibatnya, jumlah kapal yang berani melewati selat strategis itu terus menyusut. Para awak kapal dilaporkan semakin ketakutan akan keselamatan mereka.

Data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sedikitnya sembilan kapal telah menjadi sasaran serangan sejak 6 Juli. Iran diduga berusaha memaksa kapal-kapal untuk melewati perairan teritorialnya. Jalur yang mereka tawarkan berbeda dengan rute di dekat pantai Oman yang selama ini berada di bawah perlindungan militer Amerika Serikat.

"Kita melihat penurunan volume kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan sekarang para kru kapal semakin khawatir terhadap keselamatan mereka," ujar Dimitris Maniatis, CEO perusahaan jasa risiko maritim Marisks, pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Pada hari Selasa, serangan terhadap kapal tanker minyak Al Bahyah di lepas pantai Oman menewaskan seorang pelaut dan melukai tiga lainnya. Di hari yang sama, 11 awak kapal tanker Mombasa B juga mengalami luka-luka akibat serangan serupa.

Jakob Larsen, Kepala Keamanan BIMCO, mengatakan Iran menggunakan rudal antikapal dalam serangan-serangan tersebut. Menurut Maniatis, ketakutan para awak kapal kini menjadi faktor utama yang menghambat pelayaran. Bukan lagi soal insentif atau upah yang ditawarkan.

Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah menghentikan sebuah kapal tanker kosong berbendera CuraƧao. Kapal itu menuju Pulau Kharg, Iran, dan sebelumnya mengabaikan sejumlah peringatan. Tindakan ini dilakukan di tengah pemberlakuan kembali blokade laut AS terhadap Iran.

Larsen juga memperingatkan bahwa jalur pelayaran utama di tengah Selat Hormuz masih sangat berbahaya. Ancaman terbesar datang dari ranjau laut. Menurutnya, ledakan ranjau di bawah kapal bisa menimbulkan kerusakan yang sangat parah.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz kini terbuka bagi semua kapal, kecuali kapal milik Iran. Pernyataan ini menyusul diberlakukannya kembali blokade laut terhadap Iran. Trump menegaskan kapal-kapal dari negara lain tetap bisa melintasi selat tersebut.

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Meski Trump mengklaim Selat Hormuz telah kembali dibuka, perusahaan pelacak kapal mencatat lalu lintas di selat itu justru merosot tajam. Analis dari Lloyd's menyebut Selat Hormuz pada praktiknya hampir kembali tertutup. Hanya sedikit kapal yang masih berani melintas. Beberapa di antaranya bahkan mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis saat berlayar.

Data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga pekan. Pada hari Kamis, hanya delapan kapal yang melintas. Jumlah itu turun drastis dari 15 kapal sehari sebelumnya.

Sebagai perbandingan, sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Penurunan drastis ini menunjukkan bahwa meskipun ada klaim pembukaan kembali, ketakutan dan risiko keamanan masih menjadi penghalang utama bagi pelayaran di kawasan tersebut.

Selat HormuzIrankapal tankerseranganketeganganblokadekeselamatan

Komentar

Memuat komentar...