Jackline Sakilu Doping: Diberi Larangan 10 Tahun di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Jackline Sakilu, atlet setengah maraton asal Tanzania, pernah memegang rekor dunia pada 2022. Rekor tersebut menempati posisi tertinggi di dunia hingga 2024. Namun, pada 01 Maret 2025, saat Maraton Seoul, sampel urin Sakilu diuji oleh Unit Integritas Atletik (AIU).
Uji pertama menunjukkan hasil negatif. Tetapi pada 01 September 2025, uji kedua mengungkapkan adanya zat terlarang. Laporan Canadian Running Magazine menyatakan bahwa sampel yang diambil di luar kompetisi pada 01 Agustus 2025 menandai dua steroid alami, yakni androsteron dan etiocholanolone.
Hasil ini menandakan bahwa Sakilu menggunakan dosis mikro testosteron atau zat anabolik terkait. Dengan dosis hormon yang sangat kecil, atlet dapat meningkatkan daya tahan, mempertahankan massa otot, dan meningkatkan performa latihan intensitas tinggi.
Antara tahun 2022 dan 2024, Sakilu memangkas hampir sembilan menit dari waktu lari setengah maraton dan mengurangi lima menit dari maraton penuh. Catatan waktu terbaik pribadinya turun menjadi 2 jam, 26 menit, dan 50 detik.
Setelah penemuan di 2025, AIU memutuskan untuk menguji ulang sampel lama Sakilu pada 29 Juni 2024. Dua sampel yang diambil pada tanggal tersebut juga menunjukkan hasil positif untuk androsteron dan etiocholanolone.
Hasil ini menimbulkan dugaan bahwa Sakilu kemungkinan besar memakai zat terlarang di Olimpiade Paris 2024, yang berlangsung pada 11 Agustus 2024. Di sana, ia tidak menyelesaikan lari 42,195 km dan mengundurkan diri setelah tanda 15 km.
Jackline Sakilu mengklaim bahwa hasil positifnya disebabkan oleh penyakit. Ia menyatakan bahwa seorang dokter di kota asalnya telah meresepkan obat yang mengandung ibuprofen dan prednisolon.
Terlepas dari klaim tersebut, AIU menjatuhkan sanksi larangan terlama dalam sejarahnya. Ia dihukum selama 10 tahun, dua larangan berturut-turut selama empat tahun, ditambah dua tahun tambahan karena “larangan yang memberatkan.”
Atlet berusia 39 tahun kini dilarang berpartisipasi dalam kompetisi atlet dunia hingga 01 September 2035. Semua hasil kompetisinya sejak 29 Juni 2024 dan seterusnya dibatalkan, meskipun raihan rekor setengah maraton sebelumnya, yakni 66 menit 5 detik, dan kemenangannya di Maraton Chongqing 2024 tetap diakui.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap doping di olahraga. Dosis mikro dapat sulit terdeteksi pada uji awal, namun dapat terungkap pada uji lanjutan. Keputusan AIU menegaskan bahwa integritas kompetisi harus dipertahankan, meskipun atlet berpendapat bahwa obat medis dapat memengaruhi hasil uji.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bagnaia Jalani Operasi Lengan saat Libur MotoGP
BKB Rekrut Eks UFC, Incar Ekspansi ke Indonesia
Marc Marquez Yakin Motor 850cc Bisa Lebih Cepat di Sachsenring
Atlet Asian Games 2026 Tinggal di Kapal Pesiar
Veda Ega: Honda Unggul di Tikungan Cepat
Mario Aji dan Veda Ega Siap Balapan di MotoGP Mandalika
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
