Jalan Diponegoro di Depan Gedung Sate Ditutup Permanen
Gambar atau konten salah?
Bandung – Mulai Jumat, 10 Juli 2026, Jalan Diponegoro di depan Gedung Sate resmi ditutup untuk selamanya. Bukan uji coba, bukan penutupan sementara. Ini permanen. Kebijakan ini diambil Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari proyek besar penataan kawasan terpadu Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
Selama ini, Jalan Diponegoro membelah dua ikon Kota Bandung tersebut. Sekarang, jalan itu tidak akan difungsikan lagi. Tujuannya? Pemprov Jabar ingin menciptakan kawasan publik yang lebih rapi, nyaman, aman, dan menyatu. Bukan cuma untuk kendaraan, tapi juga untuk pejalan kaki dan aktivitas warga.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, menegaskan hal ini. "Iya (ditutup) permanen," katanya pada Jumat, 10 Juli 2026. Penegasan ini sekaligus mengakhiri spekulasi bahwa penutupan hanya bersifat sementara atau uji coba.
Penataan kawasan ini juga bagian dari upaya memperkuat peran Gedung Sate. Gedung ini bukan hanya pusat pemerintahan, tapi juga ruang publik. Dengan penutupan jalan, diharapkan fungsi Gedung Sate sebagai ruang terbuka yang ramah bagi masyarakat bisa lebih terwujud.
Rekayasa Lalu Lintas Baru
Penutupan Jalan Diponegoro otomatis mengubah pola lalu lintas di sekitarnya. Pemprov Jabar sudah menyiapkan skema baru. Pengendara yang datang dari arah Jalan Supratman atau Jalan Cilaki tidak bisa lagi melintas lurus menuju Jalan Diponegoro. Semua kendaraan akan dialihkan ke Jalan Sentot Alibasyah.
Di Jalan Sentot Alibasyah, ada jalur baru yang dibuka. Lalu lintas di sana terbagi menjadi dua arah:
- Lajur kanan mengarah ke Flyover Mochtar Kusumaatmadja.
- Lajur kiri menuju Jalan Majapahit dan kawasan DPRD Jawa Barat.
Skema ini dirancang agar arus kendaraan tetap berjalan meskipun Jalan Diponegoro sudah tidak bisa dilalui.
Jalur Alternatif untuk Pengendara
Bagi kendaraan yang berasal dari arah Jalan Trunojoyo, Jalan Ariajipang, atau kawasan DPRD Jawa Barat, rutenya juga berubah. Jika ingin menuju Jalan Supratman atau Jalan Cisangkuy, pengendara harus:
- Melintasi Jalan Majapahit.
- Belok ke Jalan Surapati.
- Masuk ke Jalan Sentot Alibasyah.
Pengendara diimbau untuk benar-benar memperhatikan rambu-rambu lalu lintas yang sudah dipasang di berbagai titik. Jangan sampai salah jalur.
Waspada di Titik Rawan
Dishub Jabar mengingatkan bahwa perubahan ini membuat beberapa titik menjadi lebih rumit. Salah satu yang paling krusial adalah pertemuan arus kendaraan dari arah Flyover Mochtar Kusumaatmadja dengan kendaraan yang masuk ke Jalan Sentot Alibasyah. Titik ini diperkirakan akan menjadi pusat kepadatan.
Karena itu, masyarakat diminta mengurangi kecepatan. Perhatikan marka jalan. Patuhi arahan petugas di lapangan, terutama selama masa adaptasi.
Petugas Dishub Dikerahkan
Untuk membantu masyarakat beradaptasi, Dishub Jawa Barat menempatkan petugas di sejumlah titik strategis. Salah satu lokasi yang mendapat pengawasan ekstra adalah persimpangan Jalan Sentot Alibasyah dan Jalan Majapahit. Petugas akan memberikan arahan langsung kepada pengendara agar lalu lintas tetap lancar dan kemacetan bisa diminimalkan.
Dampak yang Perlu Diantisipasi
Penutupan permanen Jalan Diponegoro diperkirakan membawa beberapa perubahan bagi mobilitas warga. Arus kendaraan di sekitar Gedung Sate pasti berubah total. Pengendara harus mencari dan menggunakan jalur alternatif. Pada masa awal penerapan, potensi kepadatan lalu lintas diperkirakan akan meningkat.
Pemprov Jabar berharap masyarakat bisa segera menyesuaikan diri dengan pola lalu lintas baru ini. Tujuannya jelas: agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan tanpa hambatan berarti.
Penutupan Jalan Diponegoro ini bukan sekadar perubahan rute. Ini adalah langkah untuk mengubah wajah kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu menjadi ruang publik yang lebih terintegrasi. Namun, dampak langsungnya terhadap lalu lintas harian warga Bandung tidak bisa diabaikan. Adaptasi akan menjadi kunci dalam beberapa minggu ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
