Johnson Kena Penyakit Autoimun Langka di Lambung

Eko P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Johnson Kena Penyakit Autoimun Langka di Lambung

Gambar atau konten salah?

Bryan Johnson, pengusaha teknologi yang juga pendiri proyek anti-penuaan ekstrem Blueprint, mengaku baru-baru ini didiagnosis dengan penyakit autoimun langka yang menyerang lambung. Pria berusia 48 tahun itu mengidap autoimmune gastritis (AIG), sebuah kondisi di mana sistem kekebalan tubuhnya justru menyerang jaringan lambung sendiri.

Kabar ini cukup mengejutkan. Sebab selama ini Johnson dikenal sebagai salah satu biohacker paling disiplin di dunia. Ia menjalani berbagai upaya ketat untuk memperlambat penuaan dan menjaga tubuh tetap prima. Mulai dari tes darah rutin, pemantauan biomarker, hingga berbagai pemeriksaan medis. Semua itu dilakukan demi memastikan tubuhnya berada dalam kondisi optimal. Namun penyakit ini lolos dari pantauan.

"Saya mengidap penyakit autoimun. Lambung saya sedang memakan dirinya sendiri," tulis Johnson di akun X miliknya. Ia menjelaskan bahwa penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada lambung. Akibatnya, tubuh bisa kekurangan nutrisi, mengalami anemia, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko kanker lambung.

Autoimmune gastritis baru terdeteksi setelah dokter melakukan endoskopi dan biopsi lambung. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda awal atrofi pada sel-sel penghasil asam lambung. Sementara bagian lambung lainnya masih belum terdampak. "Saya baru mengetahuinya pada Mei. Saya juga tidak tahu sejak kapan penyakit ini ada," ujar Johnson.

Penyakit ini tergolong kronis. Sistem kekebalan tubuh keliru menyerang lapisan lambung. Akibatnya, produksi asam lambung dan intrinsic factor terganggu. Intrinsic factor adalah protein yang dibutuhkan tubuh untuk menyerap vitamin B12. Pada tahap awal, penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala. Banyak penderita baru terdiagnosis setelah mengalami komplikasi seperti anemia, kekurangan zat besi, defisiensi vitamin B12, hingga meningkatnya risiko kanker lambung.

Johnson menduga akar masalahnya berasal dari gaya hidup di masa lalu. Ia mengaku tumbuh dengan pola makan yang didominasi sereal tinggi gula, minuman bersoda, dan makanan cepat saji. Saat memasuki usia 20-an, ia membangun perusahaan sambil membesarkan tiga anak. Tekanan hidup membuat kondisinya semakin memburuk. "Tekanan membangun bisnis membuat saya mengalami stres berkepanjangan. Berat badan saya naik sekitar 18 kilogram dan saya sempat mengalami depresi kronis," ungkapnya.

Pada usia 21 tahun, Johnson juga didiagnosis menderita hipotiroid. Hingga kini ia masih menjalani terapi hormon. Belakangan, dokter juga menemukan kadar ferritin atau cadangan zat besinya terus rendah. Meski kadar hemoglobinnya masih normal. Sebelum diagnosis penyakit lambung itu, Johnson sempat menjalani kolonoskopi dengan hasil normal. Baru setelah dilakukan endoskopi menyeluruh disertai biopsi dari tiga bagian lambung, dokter menemukan tanda-tanda autoimmune gastritis stadium awal.

Hingga kini belum ada terapi yang bisa menyembuhkan autoimmune gastritis. Penanganan umumnya berfokus pada mengatasi kekurangan nutrisi, mengendalikan gejala, serta memantau risiko komplikasi. Meski demikian, Johnson berencana memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan pendekatan terapi baru. Ia ingin mengeksplorasi antibodi hasil rancangan AI yang ditujukan untuk menghentikan serangan sistem imun terhadap lambung.

Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan seseorang yang sangat disiplin dalam memantau kesehatannya pun bisa melewatkan penyakit serius. Autoimmune gastritis sulit terdeteksi tanpa prosedur endoskopi dan biopsi. Penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Johnson kini harus menjalani pemantauan rutin untuk mengelola kondisinya, sambil berharap pendekatan berbasis AI bisa membuka jalan pengobatan baru di masa depan.

Bryan Johnsonautoimmune gastritispenyakit autoimunBluePrintendoskopikecerdasan buatanbiohacker

Komentar

Memuat komentar...