Jasa Penjor Badung Jadi Solusi Cepat Galungan Kuningan
Gambar atau konten salah?
Badung – Jasa pembuatan dan pemasangan penjor, upacara tradisional Bali, semakin diminati menjelang Galungan dan Kuningan. Kegiatan ini menjadi solusi bagi warga kota yang tidak punya waktu untuk membuat penjor sendiri. Usaha ini tumbuh sejak beberapa tahun terakhir, menyesuaikan dengan aktivitas padat masyarakat.
Di lapangan, deretan perajin penjor musiman menempati titik strategis di Badung, mulai dari Jalan Raya Kerobokan (Kuta Utara) hingga Jalan Denpasar‑Gilimanuk di Desa Mengwitani, Mengwi. Pekerjaan bikin penjor ini sebenarnya rumit sekali, makanya satu hari paling banyak cuma bisa selesai lima penjor. Bahkan, sekarang saya sampai terpaksa menolak banyak pesanan dari pelanggan karena sudah kewalahan, ujar I Nyoman Sukadana, perajin penjor di Banjar Lodapura, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, pada 15 Juni 2026.
Sukadana melaporkan bahwa pemesanan penjor sudah masuk sejak sepekan lalu. Namun, keterbatasan tenaga membuatnya hanya dapat menerima minimal 25 pesanan untuk Galungan kali ini. Batas akhir pemesanan akan ditutup pada 16 Juni 2026, sehingga para perajin berusaha menuntaskan semua pesanan tepat waktu. Proses produksi harus cepat, karena pekerja juga memperhitungkan hari baik atau kedewasan menurut kalender Bali untuk penancapan penjor di lokasi konsumen.
“Hari ini tidak bisa menancapkan penjor karena bertepatan dengan hari Kajeng, jadi kami hanya fokus memproduksi saja dahulu. Besok Selasa pas hari Penampahan Galungan, barulah kami lanjut mengantar dan memasangnya dari pagi sampai sore,” jelas Sukadana, yang dibantu oleh dua tenaga kerja.
Perajin lain, Kadek Merta, di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, menilai tingginya permintaan juga memberi omzet lumayan bagi para perajin lokal. Harga penjor bervariasi, tergantung tingkat kerumitan hiasan. Satu buah penjor hias dipatok mulai dari ratusan ribu rupiah. Untuk penjor yang memakai hiasan kolong biasa harganya sekitar Rp 400 ribu, sedangkan kalau memakai variasi kolong kobra harganya mencapai Rp 500 ribu karena janurnya lebih besar dan bahannya lebih mahal. Selain itu, ada juga jenis penjor kolong ratna yang harganya berkisar antara Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu, semua tergantung jenis pesanan masyarakat, ungkap Kadek Merta.
Luasnya jangkauan layanan pemasangan menjadi alasan utama lembaga maupun perorangan memilih jasa ini. Dengan layanan antar‑pasang, wilayah pemasaran penjor hias perajin dua anak ini bahkan menembus kabupaten tetangga. Pelanggan yang memesan penjor di sini tersebar luas mulai dari kawasan Tabanan, ada dari Kediri, Desa Baru, sampai ke wilayah Sanggulan. Beberapa sekitar sini ada. Kalau jelang Galungan saya rutin buka pesanan penjor ini, biasanya bisa habis 300 batang bambu, ludes terjual, jelas Kadek Merta.
Permintaan menambah tekanan pada para perajin, yang harus menyeimbangkan kualitas, waktu, dan kepercayaan pelanggan. Meski begitu, layanan praktis ini tetap menjadi pilihan bagi banyak orang yang menginginkan penjor dengan cepat dan tanpa repot. Kegiatan ini menegaskan kembali pentingnya tradisi budaya dalam kehidupan modern, sekaligus memberi peluang ekonomi bagi pengrajin lokal di Badung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
