KJRI Noumea Latih Warga Kaledonia Baru Olah Bambu dan Kelapa

Fandi R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
KJRI Noumea Latih Warga Kaledonia Baru Olah Bambu dan Kelapa

Gambar atau konten salah?

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Noumea, Kaledonia Baru, baru saja menggelar program pelatihan untuk warga setempat. Fokusnya? Membuat kerajinan tangan dari sumber daya alam yang ada di sekitar mereka.

Program peningkatan kapasitas ini memanfaatkan produk-produk alam. Pelatihannya sendiri berlangsung di tiga kota berbeda di Kaledonia Baru. Pertama, Kota Canala pada 20 Juni hingga 26 Juni 2026. Lalu, Kota Thio pada 29 Juni hingga 03 Juli 2026. Terakhir, Kota Touho pada 04 Juli hingga 06 Juli 2026.

Sosok di balik pelatihan ini adalah Drs. FX. Supriyono. Ia seorang pelatih dan mantan widyaiswara dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta. Keahliannya langsung diterapkan di lapangan.

Pesertanya beragam. Ada komunitas Melanesia Kanak di Kota Canala. Ada juga peserta dari Asosiasi Pemuda Gereja dan LSM Secours Catholique di Kota Thio. Di Kota Touho, pesertanya lebih multi-etnis, termasuk warga Kaledonia Baru yang memiliki darah keturunan Jawa. Semua belajar bersama.

Apa saja yang dipelajari? Para peserta diajari mengolah bambu. Juga mengolah tempurung kelapa. Mereka belajar pewarnaan alami, atau yang dikenal dengan ecoprinting. Tak ketinggalan, ada lokakarya kuliner Indonesia. Uniknya, semua bahan makanan yang digunakan adalah bahan lokal yang tersedia di Kaledonia Baru. Contohnya nangka, labu siam, daun singkong, dan jantung pisang.

Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan. Tujuannya jelas: meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam setempat. Bukan sekadar teori, semua praktik langsung.

Dalam lokakarya pengolahan bambu, peserta belajar teknik memotong yang benar. Mereka juga diajari metode pengawetan bambu. Hasilnya? Beragam produk fungsional. Mulai dari bingkai dekorasi, keranjang, rak, sisir, nampan, pengering pakaian, hingga meja kecil. Semua dari bambu.

Sementara itu, lokakarya tempurung kelapa tak kalah menarik. Peserta diajari membuat perhiasan, anting-anting, asbak, cangkir, dan peralatan dapur. Finishing produk-produk ini menggunakan minyak kelapa alami. Hasilnya punya nilai tambah yang jelas.

KJRI Noumea menjelaskan, tujuan pelatihan ini adalah membekali masyarakat lokal dengan keterampilan praktis. Keterampilan itu untuk mengolah produk alam setempat menjadi barang fungsional. Yang lebih penting, barang-barang itu harus bernilai ekonomis. Bukan sekadar kerajinan biasa.

Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana pertukaran pengetahuan. Khususnya tentang kuliner Indonesia yang menggunakan bahan-bahan mudah ditemukan di masing-masing kota. Jadi, ada transfer ilmu yang nyata.

Konsul Jenderal RI Noumea, Bambang Gunawan, menyampaikan harapannya. "Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menerima manfaat dan dapat mengubah hasil kreasinya menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi," katanya. Pernyataan ini dikutip dari laman resmi Kemlu pada Minggu, 12 Juli 2026.

Pemerintah Kaledonia Baru dan warga di tiga kota itu menyambut baik. Mereka mengapresiasi inisiatif KJRI Noumea. Juga kerja sama dan persahabatan dengan Indonesia. Menurut mereka, pelatihan ini memberi pengalaman baru. Membuka perspektif ekonomi. Dan memberikan harapan masa depan yang lebih baik, terutama bagi generasi muda setempat.

Yang menarik, selama ini bambu dan kelapa sering dianggap sebagai limbah. Setelah mengikuti pelatihan, warga sadar bahwa bahan-bahan itu punya nilai guna. Juga nilai ekonomi yang bisa dikembangkan. Pandangan mereka berubah total.

Di setiap kota, kegiatan pelatihan ditutup dengan serangkaian acara. Ada penyerahan sertifikat kepada peserta. Ada penanaman pohon sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan Kaledonia Baru. Juga ada penyerahan alat kerja yang dibawa khusus oleh pelatih dari Indonesia kepada panitia setempat. Semua berjalan khidmat.

Antusiasme ternyata tak berhenti di tiga kota itu. Beberapa kota lain di Kaledonia Baru sudah menyatakan minat. Mereka ingin menyelenggarakan pelatihan serupa tahun depan. Kota-kota itu antara lain Kota Kone, Kota Poindimie, Kota Bourail, dan Pulau Iles des Pins. Permintaan datang dari berbagai penjuru.

KJRI Noumea berharap kerja sama ini terus berkembang. Bukan hanya soal keterampilan. Tapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pelestarian lingkungan. Dan yang tak kalah penting, peningkatan hubungan persahabatan antara kedua negara. Semua saling terkait.

Pelatihan ini menunjukkan bagaimana sumber daya lokal yang sederhana bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Bambu dan kelapa yang tadinya dianggap limbah, kini punya potensi ekonomi. Warga lokal belajar langsung dari ahlinya. Mereka mendapat keterampilan baru. Dan yang terpenting, mereka punya harapan untuk masa depan yang lebih baik. Inisiatif kecil dari KJRI Noumea ini membuka pintu bagi perubahan yang lebih besar di Kaledonia Baru.

pelatihan kerajinanKaledonia Barubambutempurung kelapaecoprintingnilai ekonomiKJRI Noumea

Komentar

Memuat komentar...