Kabin Kering, Rasa Makanan Penerbangan Menurun Karena Kelembapan
Gambar atau konten salah?
Di dalam kabin pesawat, rasa makanan seringkali terasa kurang memuaskan. Banyak penumpang mengeluhkan makanan yang hambar atau tidak enak. Penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa perubahan kondisi kabin memengaruhi cara tubuh merasakan rasa.
Menurut ahli pangan Abby Thiel, yang dilaporkan di Reader’s Digest pada 10 April 2024, rasa tidak berubah karena makanan itu sendiri, melainkan karena tubuh merasakannya berbeda. Pada ketinggian tertentu, kemampuan indera perasa untuk mendeteksi manis dan asin dapat menurun hingga 30 %. Sementara itu, pahit dan asam tetap terasa sama, dan umami bahkan bisa terasa lebih kuat.
Perubahan utama terjadi pada indera penciuman. Udara di kabin sangat kering, hanya sekitar 10‑20 % kelembapan. Kelembapan rendah membuat hidung dan mulut menjadi kering. Tekanan udara di kabin juga dapat membuat saluran hidung sedikit membengkak, sehingga kemampuan mencium aroma menurun. Penciuman sangat penting karena memengaruhi persepsi rasa secara keseluruhan.
Udara kering juga mengurangi produksi air liur. Air liur membantu melarutkan molekul rasa agar dapat dideteksi oleh lidah. Jika air liur berkurang, rasa makanan menjadi kurang terasa. Akibatnya, makanan di pesawat seringkali terasa lebih hambar dibandingkan saat di darat.
Faktor ketiga yang berpengaruh adalah kebisingan kabin. Suara mesin pesawat berkisar 80‑85 dB. Kebisingan ini dapat memengaruhi cara otak memproses rasa. Dalam kondisi bising, rasa manis dan asin cenderung lebih lemah, sementara umami menjadi lebih menonjol. Suara juga dapat mengalihkan perhatian otak dari pengalaman makan secara keseluruhan.
Karena hal ini, maskapai biasanya menambahkan lebih banyak garam dan bumbu agar makanan tetap terasa. Namun, penambahan natrium ini terkadang membuat makanan terasa terlalu asin atau tidak seimbang. Ahli gizi Angel Luk menjelaskan bahwa kandungan natrium yang lebih tinggi memang ditujukan untuk mengimbangi perubahan indera perasa, meski porsinya relatif kecil.
Bagi penumpang yang ingin mengontrol rasa dan kualitas makanan, membawa makanan sendiri menjadi pilihan. Ini juga penting bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus, seperti alergi. Meskipun begitu, makanan yang dibawa dari rumah tetap bisa terasa hambar di udara. Untuk mengatasinya, disarankan memilih bahan makanan yang memiliki rasa umami alami, seperti tomat, jamur, atau kedelai, serta menambahkan rasa asam seperti lemon atau cuka.
Secara keseluruhan, kondisi kabin pesawat—kelembapan rendah, tekanan udara, dan kebisingan tinggi—memengaruhi indera perasa dan penciuman. Menyesuaikan makanan dengan kondisi ini dapat membantu penumpang menikmati makanan selama penerbangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Makanan Stadion Piala Dunia 2026 Menghebohkan Ratusan Ribu Rupiah
Pemerintah Tambah Perluasan Jaringan Internet di Pedesaan
5 Restoran Tertua Indonesia Selama Lebih Dari Seabad
Galbitang: Sop Iga Korea, Menu Sederhana Menikmati Keluarga
Sambal Bawang Bu Rudy: Pedas Nendang, Mudah Dibuat di Rumah
Kopi Selai Kacang: Minuman Sehat, Creamy, Mudah Dibuat
Berita Terbaru
Orang Tua Lupa Ajarkan Balig: Anak Kini Wajib Tanggung Jawab
Batu Lingga Terselubung di Klaten Terungkap Aksara Asal Usul
Bupati Subandi Tekankan Peran Orang Tua di Era Digital
Polda Sumsel Gelar Nonton Bareng Piala Dunia 2026 Bersama Polri
Garasi Motor Sampah di Trotoar Jalan Ambon Jadi Sorotan Bandung
USA Juara Grup D Piala Dunia 2026, Australia di Posisi Kedua
Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Indonesia Juni 2026
MotoGP 2026: Balapan Indonesia di Mandalika Mulai Oktober
